Berjalan-jalan di Narita pada pagi hari, saat langit baru mulai terang dan sinar matahari menyinari kawasan kuil. Udara yang jernih dan sedikitnya pengunjung membuat suasananya terasa semakin tenang.
Kuil Buddha Naritasan Shinshoji tidak jauh dari Bandara Narita dan sangat cocok dijadikan perhentian pertama maupun terakhir dalam perjalanan. Namun, kawasannya cukup luas, jadi jangan lupa menyediakan waktu lebih agar bisa beribadah dengan tenang.
Kuil Buddha Naritasan Shinshoji | Ulasan oleh 金己田
Ulasan Lain oleh 金己田
-
Sakurajima
Sakurajima adalah kompleks gunung api di Teluk Kinko. Kawasan ini termasuk dalam Taman Nasional Kirishima-Kinkowan dan menjadi simbol Kagoshima. Sakurajima terbentuk sekitar 26.000 tahun lalu dan telah mengalami 17 letusan besar. Hingga kini, letusan kecil masih terjadi hampir setiap hari.
Saat melihat Sakurajima dari kereta, saya langsung tahu bahwa saya telah tiba di Kagoshima.
Sakurajima, gunung berapi yang masih aktif ini, menyatu dalam keseharian Kagoshima seperti latar belakang dan dapat terlihat di mana-mana. Meskipun merupakan gunung berapi aktif yang menimbulkan berbagai ketidaknyamanan seperti abu vulkanik, keberadaannya begitu alami dalam pemandangan kota. Bagi wisatawan, gunung ini merupakan pemandangan yang jarang ditemui, tetapi bagi warga setempat, gunung ini adalah bagian dari kehidupan. -
-
Kawatoyo Honten
Sejak zaman Edo, hidangan unagi (sidat) telah digemari sebagai kuliner khas saat berziarah ke Kuil Buddha Naritasan Shinshoji. Salah satu restoran legendaris yang menyajikan hidangan ini di Narita adalah Kawatoyo Honten, yang terletak di jalan menuju kuil. Berdiri sejak 1910, restoran ini menyajikan unagi pilihan koki dengan pengalaman lebih dari 50 tahun dalam bentuk unaju, kabayaki, dan shirayaki. Saat tiba di depan restoran, perhatian Anda akan langsung tertuju pada para koki yang membersihkan dan membelah unagi, menusuknya dengan tusuk sate, lalu memanggangnya di depan mata.
Begitu tiba di Omotesando Naritasan, aroma unagi panggang langsung tercium, dan Kawatoyo selalu menjadi tempat dengan kerumunan terbanyak. Di depan restoran, terlihat langsung proses para koki mengolah unagi. Meskipun harus menunggu saat jam makan, waktu terasa cepat berlalu sambil menyaksikan keterampilan mereka yang cekatan.
Setelah unagi panggang yang harum tersaji, taburan bubuk sansho membuat nasi unagi semakin lezat. Nasinya berpadu dengan saus yang kaya rasa, membuat orang tak bisa berhenti makan! -
-
Danau Biwa
Danau Biwa terletak di bagian tengah Prefektur Shiga dan termasuk dalam sistem Sungai Yodo yang berstatus kelas satu. Luasnya sekitar 670 km², atau sekitar seperenam wilayah prefektur. Danau ini menampung 27,5 miliar ton air yang mengalir melalui sungai-sungai dari pegunungan di sekitarnya dengan ketinggian lebih dari 1.000 m, seperti Gunung Ibuki, Pegunungan Suzuka, dan Pegunungan Hira. Danau Biwa merupakan danau terbesar di Jepang, baik dari segi luas maupun volume air.
Meskipun Danau Biwa adalah danau, luasnya bagaikan lautan sehingga dapat dinikmati dengan banyak cara. Baik berjalan santai di tepi danau maupun memandang dari tempat tinggi, pemandangan danau dari berbagai sudut semuanya seindah lukisan. Permukaan danau yang tenang juga menenangkan hati.
-








