Todaiji adalah tempat yang wajib dikunjungi. Di sini terdapat patung Buddha Agung yang sangat khidmat. Selain itu, di jalan menuju Todaiji terdapat banyak sekali rusa yang sangat antusias (meskipun ada juga yang berteduh di bawah pohon). Rusa bertanduk spiral juga sangat lucu. Jika membeli kerupuk rusa, kawanan rusa akan mengejar orang. Hari itu saya mengenakan pakaian dengan warna yang mirip kerupuk rusa, sehingga seluruh pakaian saya digigit dan penuh air liur. Lumayan seru 🤣
Semua Ulasan tentang Kuil Todaiji
- Terbaru
- Dengan Foto
- Paling Disukai
Menampilkan 1–10 dari 26
-
-
Pada bulan Januari saya datang ke Todaiji di Nara. Setelah menjelajahi kuil, saya juga berjalan-jalan di Kolam Kagami yang berada di kawasannya serta kota tua Todaiji di sebelahnya. Udara Januari terasa dingin, tetapi berjalan-jalan di sini justru terasa sangat nyaman. Tanpa cuaca pengap musim panas, saya bisa menikmati pemandangan sekitar dengan perlahan.
Kolam Kagami di dalam kompleks terasa sangat tenang. Air kolam memantulkan pemandangan sekitar dan berpadu dengan bangunan kuno di sampingnya, membuat orang tak tahan untuk berhenti dan melihatnya sedikit lebih lama. Setelah meninggalkan tempat itu, saya melanjutkan berjalan-jalan di kota tua Todaiji. Di sepanjang jalan terdapat cukup banyak toko untuk melihat pernak-pernik khas setempat dan mencari hidangan Nara. Dibandingkan terus terburu-buru mengejar objek wisata, saya lebih menyukai perjalanan seperti ini, saat bisa berjalan santai dan menemukan kejutan-kejutan kecil di sepanjang jalan.
Jika berencana mengunjungi Todaiji, sebaiknya jelajahi juga kawasan di sekitarnya. Tidak perlu terburu-buru pergi. Dengan berjalan perlahan, pesona Nara yang berbeda baru dapat dirasakan. Meskipun cuaca bulan Januari lebih dingin, suasananya juga memiliki daya tarik tersendiri dan tempat ini layak diluangkan waktu untuk dijelajahi. -
-
Sebagai salah satu bangunan kayu terbesar di dunia, bagian dalam Aula Buddha Agung memiliki nuansa kuno. Pilar-pilar kayu dan patung Buddha memancarkan kesan sejarah yang sangat kuat. Berjalan di dalamnya dapat membuat hati seketika menjadi tenang.
-
-
Setelah melewati gerbang dan memasuki kompleks kuil, yang langsung terlihat adalah “Daibutsuden (Kondo)”, yang disebut sebagai salah satu bangunan kayu terbesar di dunia. Berdiri di depan bangunan kuno raksasa ini saja sudah membuat saya merasakan puncak keahlian arsitektur manusia. Begitu memasuki aula, langsung terlihat “Buddha Agung Nara (Buddha Rushana)” dari perunggu setinggi 15 meter yang menatap semua makhluk dengan penuh welas asih. Berdiri langsung di bawah kaki Buddha dan menengadah ke atas memberikan rasa takjub dan ketenangan yang benar-benar sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Selain Buddha Agung yang mengagumkan, di dalam Daibutsuden juga terdapat tiang terkenal dengan “lubang seukuran lubang hidung Buddha Agung”. Konon, siapa pun yang berhasil melewati lubang pada tiang kayu tersebut akan memperoleh perlindungan keselamatan dan keberuntungan. Tempat ini selalu menarik banyak wisatawan untuk mengantre dan mencobanya, sehingga prosesnya terasa sangat ceria dan menarik.
Saya sangat menyarankan memasukkan Todaiji ke dalam rencana berjalan-jalan mendalam saat berkunjung ke Nara. Baik untuk merasakan kemegahan kuil kuno berusia seribu tahun maupun memandang Buddha Agung yang khidmat, semuanya pasti akan meninggalkan kenangan budaya yang mendalam dan mengagumkan dalam perjalanan ke Kansai! -
-
Todaiji adalah kuil Buddha bersejarah yang terkenal dengan Buddha Agung Nara yang megah dan Daibutsuden, salah satu bangunan kayu terbesar di dunia. Saat memasuki aula, kekhidmatan dan rasa takjubnya benar-benar tidak dapat digantikan oleh foto.
Di belakang Buddha Agung terdapat tiang kayu berlubang yang konon ukuran lubangnya hampir sama dengan lubang hidung Buddha Agung. Menurut legenda, siapa pun yang berhasil melewatinya akan memperoleh berkah berupa kesehatan dan terbebas dari bencana. Saya teringat ketika pertama kali datang ke Nara. Saat itu saya masih muda dan sedikit nekat. Begitu melihat semua orang mengantre, tanpa ragu saya langsung masuk, dan ternyata benar-benar berhasil melewatinya! Namun, ketika berkunjung lagi kemudian, nyali saya justru mengecil. Setelah melihat lubang itu, saya akhirnya memutuskan “cukup dinikmati saja”, karena sangat takut masuk lalu tersangkut di dalam (tertawa).
-
-
Saat memasuki Todaiji, bangunan Daibutsuden terlihat megah dan mengagumkan. Melihat dari dekat patung Buddha Agung Rushana yang sangat besar membuat sejarah serta budaya keagamaan ibu kota kuno Jepang semakin terasa mendalam. Lingkungan kompleksnya tenang, dan rusa-rusa tutul yang lucu juga terlihat berkeliaran dengan santai, menambah kesenangan dalam perjalanan.
-
-
Wisata sehari ke Todaiji. Bisa berjalan santai mengunjungi Aula Buddha Agung dan melihat dari dekat Buddha Agung Nara yang khidmat dan megah. Bisa juga sekaligus menjelajahi Nigatsudo, Hokkedo, Kaidando⋯⋯ dan lainnya. Setiap sudut memiliki kisah sejarah yang layak ditelusuri serta budaya ibu kota kuno Jepang yang layak dirasakan.
Disarankan menyisihkan sedikit waktu untuk berinteraksi dan berfoto dengan rusa-rusa kecil, lalu membawa pulang kenangan Nara milik sendiri. -
-
Ada banyak tempat wisata di sekitarnya.
-
-
Kota Nara yang bernuansa klasik ini
selain kawanan besar rusa keramat di Taman Nara
yang sangat menarik perhatian saya
juga memiliki Kuil Todaiji dengan sejarah lebih dari 700 tahun
yang terbuat dari kayu serta tampak khidmat dan megah
Setiap kali memasuki Aula Buddha Agung
rasanya seperti direngkuh dalam pelukan Buddha Rushana
memberikan ketenangan seolah-olah sedang dilindungi dan diberkati
Di hadapan Buddha, saya merasa begitu kecil bagaikan setitik di tengah lautan luas -
-
Kalau berbicara tentang Nara, pasti teringat Kuil Todaiji. Bertahun-tahun lalu saya pernah mengunjungi Nara, tetapi karena suatu alasan tidak sempat masuk. Perjalanan kali ini bisa dibilang menebus penyesalan saya dahulu.
Begitu memasuki Aula Buddha Agung, pandangan saya langsung tertuju pada patung Buddha Agung. Wisatawan dari berbagai negara berkumpul di hadapannya demi menyaksikan kemegahan sang Buddha.
Ekspresinya yang khidmat seolah mampu menerima segalanya, membuat saya tanpa sadar membungkuk penuh hormat. -



























