📸 Asakusa pada bulan Mei, Kaminarimon di bawah sinar matahari
Dalam perjalanan ke Tokyo kali ini, hal yang paling saya nantikan adalah pemandangan Asakusa. Sinar matahari bulan Mei terasa pas, hangat tetapi tidak menyilaukan, menerangi sudut kota yang kuno ini.
Berdiri di bawah lentera besar Kaminarimon yang terkenal, melihat badan lenteranya yang merah dan tulisan berwarna emas, seakan bisa merasakan sejarah ratusan tahun dan kesakralan tempat ini. Meskipun dipadati pengunjung, semua orang terlihat tersenyum. Tempat ini memang penuh energi dan kegembiraan.
Di Asakusa, kita tidak hanya bisa berdoa dan beribadah, tetapi juga mencicipi berbagai jajanan tradisional Jepang. Saat berjalan di kawasan pertokoan Nakamise-dori, aroma makanan di sepanjang jalan dan beragam oleh-oleh membuat mata terus tertarik ke sana kemari.
Ini adalah tempat yang cocok untuk dikunjungi bersama seluruh keluarga. Jika berencana datang ke Tokyo, jangan lupa memasukkan Kaminarimon Asakusa ke dalam rencana perjalanan! ✨
Kuil Buddha Senso-ji | Ulasan oleh Eddie
Ulasan Lain oleh Eddie
-
Yokohama Red Brick Warehouse
Dari zaman Meiji hingga Taisho, gudang bata merah ini beroperasi sebagai gudang berteknologi mutakhir yang menjadi kebanggaan Jepang di mata dunia. Kini, dua bangunan gudang yang tetap mempertahankan nuansa masa lalunya ini menjadi destinasi budaya dan belanja, dengan berbagai toko, restoran, aula serbaguna, dan fasilitas lainnya.
Dalam perjalanan menuju Yokohama Red Brick Warehouse, saya kebetulan melewati jalur taman di sebelahnya.
Hari itu matahari tidak terlalu terik dan ada sedikit angin, sangat cocok untuk berjalan-jalan di tepi pelabuhan. Hamparan bunga kecil berwarna ungu dan pepohonan hijau di depan mata bergoyang perlahan tertiup angin. Di balik bunga dan tanaman itu terlihat bangunan bata merah tua yang berdiri dengan tenang. Pemandangan dari sudut ini ternyata sangat nyaman dilihat dan memiliki lapisan visual yang sangat bagus.
Dibandingkan dengan suasana pasar ramai yang langsung terasa ketika tiba di pintu depan gudang, saya justru lebih menyukai jalur ini. Di sini tidak terlalu terasa keramaian dan kebisingan yang biasa ada di tempat wisata. Udara dipenuhi aroma samar tumbuhan dan embusan angin laut. Sambil menikmati angin dan berjalan perlahan di atas jalan berbatu, saya melihat bangunan berusia seratus tahun berpadu dengan bunga dan tanaman yang sedang bermekaran. Ada suasana santai yang membuat tubuh rileks secara alami.
Berjalan-jalan di Yokohama memang selalu seperti ini. Tidak harus terburu-buru pergi ke suatu tempat untuk berfoto. Sudut-sudut kecil yang ditemukan secara kebetulan di perjalanan seperti ini saja sudah cukup membuat orang ingin berhenti lebih lama dan memandanginya cukup lama. -
-
Toki no Kane
Meski hanya berjarak sekitar satu jam dari pusat Tokyo, Kawagoe menawarkan pemandangan jalanan yang penuh pesona klasik. Salah satu objek wisata ikonis kota ini adalah Toki no Kane. Menara ini menjadi tengara yang menonjol di antara deretan bangunan bergaya gudang tradisional. Menara kayu tiga tingkat ini memiliki tinggi sekitar 16 m. Loncengnya berdentang untuk menandai waktu empat kali sehari, yaitu pukul 06.00, 12.00, 15.00, dan 18.00.
Saat menatap langit Koedo Kawagoe, tengara yang paling mencolok tidak lain adalah menara lonceng kayu yang telah menjulang selama ratusan tahun ini, “Toki no Kane” (時の鐘).
Bangunan kayu tiga tingkat setinggi sekitar 16 meter ini telah menjaga kota sejak awal zaman Edo. Meski telah melewati perjalanan waktu dan dibangun kembali akibat kebakaran, menara ini tetap berdiri di samping jalan tua dengan bangunan bergaya gudang yang bernuansa klasik. Loncengnya berbunyi setiap hari pada pukul 06.00, 12.00, 15.00, dan 18.00. Suara loncengnya yang tenang dan jernih bahkan terpilih sebagai salah satu dari “100 Lanskap Suara Jepang yang Patut Dilestarikan”.
Saat berjalan di jalan kecil berbatu di bawah menara lonceng, saya mendongak dan melihat tekstur kayu cokelat tua yang tampak sangat sederhana sekaligus menawan di bawah langit biru. Di sekelilingnya terdapat toko-toko khas dan aroma manisan Jepang. Ketika suara lonceng terdengar sayup pada waktunya, rasanya seperti seketika menembus ruang dan waktu, kembali ke zaman Edo yang dahulu ramai tetapi berjalan santai. Saat datang ke Kawagoe, pastikan berhenti sejenak untuk mendengarkan suara lonceng tenang yang telah melintasi ratusan tahun ini. -
-
Kurashiki Bikan Historical Quarter
Kurashiki Bikan Historical Quarter memikat dengan deretan bangunan gudang berdinding putih, dinding namako bermotif kisi, dan jajaran pohon dedalu yang membentuk lanskap kota penuh pesona. Bangunan tradisional serta pemandangan bergaya retro modern di sepanjang Sungai Kurashiki menjadi daya tarik yang digemari wisatawan.
Saat datang ke Okayama, Kurashiki Bikan Historical Quarter adalah tempat yang sangat layak dijelajahi. Tempat ini agak berbeda dari kawasan pertokoan biasa yang ramai. Saat berjalan menyusuri Sungai Kurashiki, terlihat bangunan tradisional berwarna putih, genting hitam, serta pepohonan dedalu di tepi sungai. Seluruh pemandangan jalannya terasa sangat berkarakter.
Saya sangat menyukai tempat yang masih mempertahankan nuansa kota tua seperti ini. Tidak perlu mengatur agenda khusus. Cukup berjalan perlahan di tepi sungai dan mengambil beberapa foto, kita sudah bisa menikmati santainya perjalanan. Di dekat sini juga terdapat cukup banyak toko unik, kafe, dan toko suvenir. Kita bisa berbelanja sambil menemukan berbagai benda kecil yang menarik.
Jika memiliki cukup waktu, kita juga dapat melihat perahu kecil di sungai dan menikmati kawasan kota tua ini dari sudut yang berbeda. Dibandingkan terus mengejar jadwal dan mendatangi banyak objek wisata, menurut saya tempat seperti ini, yang memungkinkan kita memperlambat langkah, justru membuat kesenangan dalam perjalanan lebih terasa.
Kurashiki Bikan Historical Quarter bukan sekadar objek wisata yang cantik untuk difoto, tetapi juga memberi kesempatan untuk melihat seperti apa jalan tradisional Jepang. Jika merencanakan perjalanan ke Okayama, sangat disarankan menyisihkan sedikit waktu untuk berjalan-jalan di sini dan menikmati pesona kota kecil ini secara perlahan.
-









