
Nikmati Kekayaan Alam dan Budaya Tradisional Aomori! 20 Tempat Wisata Pilihan
Aomori kaya akan alam, dengan pegunungan seperti Shirakami Sanchi yang terdaftar sebagai Warisan Dunia serta laut yang mengelilinginya di tiga sisi.
Selain keindahan alam, Aomori juga menawarkan tempat wisata dan festival untuk merasakan budaya tradisional Jepang.
Festival Aomori Nebuta yang memiliki sejarah hampir 300 tahun merupakan festival sangat populer yang diikuti lebih dari 2 juta orang. Karena diselenggarakan setiap awal Agustus, Anda juga bisa menjadwalkan kunjungan ke Aomori bertepatan dengan festival ini.
Jadikan Festival Aomori Nebuta sebagai acara utama dalam rencana perjalanan Anda, lalu kunjungi berbagai tempat wisata dalam artikel ini untuk menikmati alam dan budaya tradisional Aomori.
Seperti Apa Aomori?
Prefektur Aomori berada di wilayah Tohoku, tepat di ujung paling utara Pulau Honshu.
Selain dikelilingi laut di sisi utara, timur, dan barat, Aomori memiliki banyak pegunungan, termasuk Shirakami Sanchi yang terdaftar sebagai Warisan Dunia dan Pegunungan Hakkoda. Kekayaan alam ini menjadi salah satu daya tariknya.
Aomori juga memiliki banyak situs peninggalan zaman Jomon serta berbagai festival, seperti Hachinohe Sansha Taisai yang bersejarah 280 tahun, Enburi yang bermula 800 tahun lalu, dan Festival Nebuta yang telah berlangsung hampir 300 tahun. Semuanya menghadirkan tradisi dan budaya Jepang yang masih terasa hingga kini.

Kapan Waktu Terbaik untuk Berwisata ke Aomori?
Jika ingin menikmati alam saat berwisata ke Aomori, datanglah pada April hingga Mei ketika suhu terasa nyaman.
Anda dapat menikmati keindahan musim dingin dan musim semi sekaligus: lapisan tipis salju yang masih tersisa di pegunungan, pepohonan yang menghijau, serta bunga-bunga seperti bunga kanola.
Jika ingin menyaksikan Festival Aomori Nebuta yang juga sangat populer di Jepang, kunjungilah Aomori pada awal Agustus.
Contoh Pakaian untuk Setiap Musim di Aomori
- Musim semi (Maret–Mei): jaket tebal atau mantel
- Musim panas (Juni–Agustus): kaus, kemeja lengan panjang
- Musim gugur (September–November): sweter atau kardigan
- Musim dingin (Desember–Februari): mantel, sweter tebal atau jaket tebal
Bagaimana Cara Menuju Aomori?
Prefektur Aomori memiliki Bandara Aomori dan Bandara Misawa. Dari Tokyo, Osaka, dan Nagoya yang juga memiliki bandara, perjalanan dapat ditempuh sekitar 1–1,5 jam.
Bandara Aomori juga melayani penerbangan internasional sehingga mudah diakses dari luar negeri.
Selain pesawat, Anda bisa menggunakan shinkansen atau bus antarkota melalui jalan tol. Tersedia beragam pilihan transportasi untuk mencapai Aomori.
Transportasi Utama untuk Berwisata di Aomori
Kereta dan bus merupakan sarana transportasi utama di Prefektur Aomori.
Terdapat 5 jalur kereta JR dan 3 jalur lainnya. Dengan memadukan perjalanan kereta dan bus, Anda semestinya dapat mencapai berbagai tempat wisata tanpa kesulitan berarti.
Nikmati Aomori Sepenuhnya! 20 Tempat Wisata Pilihan
Saat berwisata ke Aomori, jangan lewatkan tempat wisata dan festival yang menghadirkan tradisi serta budaya Jepang, seperti situs peninggalan zaman Jomon dan Festival Nebuta yang bersejarah hampir 300 tahun.
Aomori juga memiliki kawasan pemandian air panas atau onsen, tempat Anda dapat melepas lelah setelah berwisata.
Ketika mengunjungi Aomori, sempatkanlah mendatangi tempat-tempat wisata pilihan berikut yang menyajikan beragam daya tarik daerah ini.
1. Festival Aomori Nebuta
Festival Aomori Nebuta diselenggarakan di Kota Aomori setiap tahun selama 7 hari, dari 2 hingga 7 Agustus, dan biasanya menarik sekitar 3 juta pengunjung. Festival bersejarah yang diperkirakan berakar pada zaman Nara (710–794) ini merupakan salah satu dari tiga festival besar Tohoku dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Rakyat Takbenda Penting Jepang.

2. Nebuta Museum WA RASSE
WA RASSE adalah museum modern berwarna merah tua yang tampak mencolok, terletak tak jauh dari area depan Stasiun Aomori.
Di aula luas dengan langit-langit terbuka hingga lantai 2, dipajang beberapa nebuta, yaitu dekorasi arak-arakan bercahaya, berukuran lebar 9 m, panjang 7 m, dan tinggi 5 m. Pemandangannya sungguh mengesankan.
Musik pengiring nebuta mengalun di dalam museum, menghadirkan suasana seolah Anda sedang berada di tengah festival.

3. Museum Seni Prefektur Aomori
Museum seni ini terletak sekitar 5 menit berjalan kaki dari Situs Sannai Maruyama yang terdaftar sebagai Warisan Budaya Dunia.
Salah satu koleksi yang patut dilihat adalah “Aleko”, lukisan latar panggung balet karya Marc Chagall (1887–1985), salah satu pelukis terkemuka abad ke-20.
Selain Chagall, museum ini memamerkan karya seniman ternama dunia serta seniman yang memiliki hubungan dengan Aomori, seperti Shiko Munakata dan Yoshitomo Nara.

4. Kastel Hirosaki
Pada zaman Edo, kastel ini menjadi kediaman klan Tsugaru sekaligus pusat pemerintahan Domain Hirosaki. Pada zaman Meiji, kastel ini termasuk yang dipertahankan berdasarkan dekret penghapusan kastel, lalu dibuka untuk umum sebagai Taman Hirosaki. Menara utama pertamanya terbakar akibat sambaran petir pada tahun ke-4 era Kan'ei (1627). Kini, menara utama yang dibangun kembali pada 1810, 3 menara pengawas, dan 5 gerbang kastel masih berdiri. Kesembilan bangunan tersebut telah ditetapkan sebagai Properti Budaya Penting Jepang.

5. Museum Seni Kontemporer Towada
Museum ini dibuka pada tahun ke-20 era Heisei (2008) sebagai proyek utama dalam program pembangunan kota berbasis seni yang digagas pemerintah kota.
Alih-alih lukisan, sebagian besar koleksinya berupa karya tiga dimensi, seperti objek berukuran besar, yang menjadikan seluruh ruang sebagai bagian dari karya seni.
Karya seni juga tersebar di alun-alun seni di seberang museum dan di sepanjang jalan di depannya, sehingga kawasan kota ini terasa seperti sebuah museum seni kontemporer.

6. Situs Sannai Maruyama
Situs permukiman berskala besar ini terdaftar sebagai Warisan Budaya Dunia pada tahun ke-3 era Reiwa (2021).
Penelitian terhadap sisa bangunan berlantai cekung, bangunan bertiang tanam, makam, tempat pembuangan, jalan, dan peninggalan lain dari awal hingga pertengahan zaman Jomon (sekitar 5.900–4.200 tahun lalu) telah mengungkap tata permukiman secara keseluruhan serta kondisi alam pada masa itu.
Di sini juga ditemukan tembikar dalam jumlah sangat besar, batu giok yang didatangkan dari daerah lain, serta kastanya yang diperkirakan telah dikelola dan dibudidayakan. Penemuan besar ini mengubah pemahaman sebelumnya tentang budaya Jomon.

7. Hasshoku Center
Pasar ini menawarkan beragam produk khas Hachinohe, terutama hasil laut segar yang didaratkan di Pelabuhan Hachinohe, salah satu pelabuhan terkemuka Jepang.
Pasar ini bermula ketika para pedagang eceran ikan segar yang sebelumnya berjualan di dekat pelabuhan berkumpul dan membuka pasar di lokasi ini. Pada tahun ke-2 era Reiwa (2020), pasar ini merayakan hari jadinya yang ke-40.
Sekitar 60 toko berderet di area penjualan seluas lebih dari 4.200 m², dengan suara para pedagang yang menawarkan dagangan dengan penuh semangat terdengar dari berbagai penjuru.

8. Jembatan Tsuru no Mai
Jembatan kayu sepanjang 300 m dengan tiga lengkungan ini membentang di atas Danau Fujimi. Ungkapan “nagai ki” yang merujuk pada kayu panjangnya juga terdengar seperti kata Jepang untuk “panjang umur”. Karena itu, jembatan ini populer dengan kepercayaan bahwa menyeberanginya hingga tuntas akan mendatangkan berkah umur panjang.

9. Sukayu Onsen
Kawasan pemandian air panas bersejarah ini mulai digunakan sekitar 340 tahun lalu. Menurut kisah yang beredar, seekor rusa yang terluka menyembuhkan lukanya di mata air panas ini sehingga tempat tersebut dinamai Shika no Yu, yang berarti “pemandian rusa”. Pelafalannya kemudian berubah menjadi Sukayu Onsen.
Meski terletak jauh di pegunungan, tempat ini telah dikenal luas sebagai tujuan terapi berendam sejak zaman Edo. Pada tahun ke-29 era Showa (1954), Sukayu ditetapkan sebagai Kawasan Pemandian Air Panas Rekreasi Nasional pertama.
Sesuai namanya yang mengandung arti “asam”, airnya merupakan air panas belerang yang bersifat asam dan berkhasiat membantu mengatasi tubuh yang mudah kedinginan, nyeri saraf, dan keluhan lainnya.

10. Kastel Sannohe
Reruntuhan kastel ini berada di atas dataran tinggi dengan perbedaan ketinggian sekitar 90 m dari daerah sekitarnya. Menurut riwayat yang diturunkan, tempat ini menjadi kediaman keluarga Sannohe Nanbu sejak akhir zaman Muromachi hingga awal zaman Edo. Setelah kediaman mereka dipindahkan ke Morioka pada zaman Edo, seorang pengelola kastel tetap ditempatkan di sini karena lokasinya masih penting sebagai benteng pertahanan.

11. Kuil Shinto Takayama Inari
Takayama Inari merupakan salah satu kuil Shinto terkemuka di Prefektur Aomori, yang dipercaya ampuh untuk memohon panen berlimpah, keselamatan di laut, dan kelancaran usaha.
Daya tarik utamanya adalah jalan dari bangunan suci utama menuju Kuil Shinmeisha. Gerbang-gerbang torii setinggi sekitar 2 m berjajar mengikuti jalur berkelok, yang dikenal sebagai Senbon Torii atau “seribu gerbang torii”. Gerbang-gerbang ini dipersembahkan sebagai ungkapan terima kasih atas terkabulnya doa, dan jumlahnya disebut melebihi 200 buah.

12. Kuil Shinto Kabushima
Kabushima merupakan salah satu tempat berkembang biak utama burung camar ekor hitam di Jepang.
Di puncak bukit yang dicapai dengan menaiki tangga batu, berdiri Kuil Kabushima yang didirikan pada tahun ke-4 era Einin (1269).
Pada zaman Edo, para penguasa Domain Hachinohe dari generasi ke generasi, mulai dari penguasa pertamanya, sangat memuliakan kuil ini.
Dewi yang dipuja di sini, Ichikishimahime no Mikoto, dipandang sebagai dewi yang sama dengan Benzaiten, salah satu dari Tujuh Dewa Keberuntungan, yang memberikan keberuntungan besar dalam hal keuangan. Kawanan camar ekor hitam yang menunjukkan lokasi ikan sejak dahulu dihargai oleh warga setempat sebagai pengiring dewi Benzaiten.

13. Museum Penerbangan dan Sains Misawa Prefektur Aomori
Lapangan terbang Misawa yang berada di kota ini merupakan satu-satunya lapangan terbang di Jepang yang digunakan bersama oleh Angkatan Udara Amerika Serikat, Pasukan Bela Diri Udara Jepang, dan penerbangan sipil.
Kota Misawa dikenal memiliki hubungan erat dengan dunia penerbangan.
Sebagai simbol hubungan tersebut, dibangunlah Museum Penerbangan dan Sains Misawa Prefektur Aomori, sebuah museum penerbangan dan sains bertema langit luas dan penerbangan.

14. Jalan Nakamachi Komise
Jalan Nakamachi Komise merupakan tempat wisata di pusat Kota Kuroishi.
Jalur pejalan kaki ini mempertahankan suasana dari masa pemerintahan domain feodal. Konon, tidak ada contoh lain di Jepang yang masih mempertahankan jalur seperti ini sebagai satu kesatuan utuh.
Ciri khas jalan ini adalah deretan selasar kayu beratap yang dibangun dengan teknik gangi-zukuri.
Teknik tersebut dikembangkan agar orang tetap dapat berjalan saat salju menumpuk. Dahulu, bangunan seperti ini banyak ditemukan di wilayah Honshu yang menghadap Laut Jepang, tetapi kini hanya tersisa di sini dan di sebagian wilayah Prefektur Niigata.
Pada tahun ke-17 era Heisei (2005), kawasan ini juga ditetapkan sebagai Distrik Pelestarian Penting untuk Kelompok Bangunan Tradisional Jepang.

15. Koganezaki Furofushi Onsen
Penginapan tradisional dengan pemandian air panas ini berada di kaki Pegunungan Shirakami Sanchi. Nama Furofushi Onsen, yang berarti “pemandian awet muda dan abadi”, berasal dari harapan pendirinya: “Dengan memulihkan kesehatan di sini, orang tidak akan menua atau melemah.” Banyak tamu menginap untuk menikmati kolam pemandian terbuka di tepi pantai yang hanya berjarak 1 m dari laut. Pengalaman berendam terasa istimewa saat menyaksikan matahari terbenam yang menyelimuti seluruh pemandangan dengan warna keemasan.

16. Aliran Sungai Oirase
Sungai Oirase mengalir keluar dari Danau Towada. Bagian sungai sepanjang sekitar 14 km yang melewati lembah dari Nenokuchi di tepi Danau Towada hingga Yakeyama dikenal sebagai Aliran Sungai Oirase. Kawasan indah ini menyajikan pemandangan alam yang beragam, mulai dari aliran air jernih di antara pepohonan, air terjun dengan berbagai bentuk, hingga bebatuan besar dan kecil. Bersama Danau Towada, tempat ini ditetapkan sebagai Tempat Keindahan Pemandangan Istimewa dan Monumen Alam Jepang.

17. Shirakami Sanchi
Shirakami Sanchi adalah nama untuk kawasan pegunungan luas sekitar 13 ha yang membentang dari bagian barat laut Prefektur Akita hingga bagian barat daya Prefektur Aomori. Di kawasan ini tersebar hutan beech primer yang termasuk terbesar di dunia dan hampir tidak tersentuh aktivitas manusia sejak zaman purba. Beragam jenis satwa dan tumbuhan hidup secara alami di sini, menjaga ekosistem yang berharga. Karena itu, kawasan ini terdaftar sebagai Warisan Alam Dunia pada 1993.

18. Danau Towada
Danau Towada membentang di Kota Towada, Prefektur Aomori, dan Kota Kosaka, Distrik Kazuno, Prefektur Akita. Danau kaldera ini terbentuk akibat aktivitas letusan Gunung Towada yang dimulai sekitar 200.000 tahun lalu. Di antara danau-danau di Jepang, Towada menempati urutan ke-12 berdasarkan luas dan ke-3 berdasarkan kedalaman maksimum, yaitu 327 m. Bersama Aliran Sungai Oirase yang mengalir keluar darinya, danau ini ditetapkan sebagai Tempat Keindahan Pemandangan Istimewa dan Monumen Alam Jepang.

19. Pegunungan Hakkoda
Hakkoda merupakan sebutan untuk sejumlah gunung yang menjulang di bagian selatan Kota Aomori dan termasuk dalam daftar 100 Gunung Terkenal Jepang. Dengan Odake setinggi 1.585 m sebagai puncak utamanya, 10 gunung termasuk Takada Odake, Idodake, dan Akakuradake disebut Hakkoda Utara, sedangkan 6 puncak termasuk Kushigamine disebut Hakkoda Selatan. Di kawasan Tamoyachidake, tempat Stasiun Sancho Koen yang menjadi pemberhentian terakhir kereta gantung Hakkoda berada, Anda dapat menikmati pemandangan indah berupa hamparan tumbuhan alpin yang berbunga serta banyak kolam dan rawa.

20. Pepohonan Berlapis Es Hakkoda
Hakkoda adalah sebutan untuk gugusan gunung berapi yang terdiri dari 18 puncak, dengan Odake setinggi 1.584 m sebagai puncak utamanya, dan termasuk dalam daftar 100 Gunung Terkenal Jepang. Daya tariknya adalah lahan rawa dataran tinggi yang luas serta panorama megah yang terlihat dari puncaknya. Kawasan yang dapat dinikmati sepanjang tahun ini juga populer untuk bermain ski dan mendaki gunung.
Hal yang tak boleh dilewatkan adalah juhyo, yaitu pepohonan yang terbungkus lapisan es pada musim dingin. Butiran air dari kabut, salju, dan sumber lainnya tertiup ke pohon cemara Aomori lalu membeku, membuat pepohonan tampak semakin besar. Setelah tertutup timbunan salju, bentuknya juga dikenal dengan sebutan “monster salju”.

3 Tempat Makan Populer di Aomori
Berikut pilihan tempat makan populer di Aomori untuk menikmati hidangan lezat yang berakar pada tradisi setempat.
Suasana interior yang hangat dan nyaman untuk bersantai juga menjadi daya tariknya.
Ketiganya merupakan pilihan yang tidak akan mengecewakan. Gunakan daftar ini sebagai referensi dan kunjungi tempat yang menarik perhatian Anda.
1. Aji no Sapporo Onishi
Restoran populer ini dibuka pada 1991 sebagai usaha mandiri yang mewarisi nama dan cita rasa kedai ramen Aji no Sapporo yang dahulu beroperasi di Aomori.
Ramen miso kari susu, hidangan khas Aomori yang telah lama dicintai warga setempat, awalnya merupakan menu andalan kedai Aji no Sapporo yang asli.
Konon, ramen ini dibuat atas permintaan pelanggan pada 1970-an. Awalnya hanya tersedia sebagai menu rahasia, kemudian dimasukkan ke dalam menu resmi.
Di Aji no Sapporo Onishi, sang pemilik yang dahulu bekerja di kedai aslinya juga mempertahankan cita rasa tradisional tersebut dengan setia.

2. Tsurukameya Shokudo
Tsurukameya Shokudo adalah rumah makan di Asamushi Hotarudani, Kota Aomori.
Lokasinya dapat dicapai sekitar 5 menit berjalan kaki dari Stasiun Asamushi Onsen dan juga mudah disinggahi dengan mobil.
Menu andalannya adalah honmaguro-don, nasi dengan topping tuna sirip biru.
Hidangan ini menggunakan tuna sirip biru segar yang didaratkan di pelabuhan setempat.
Potongan tuna, mulai dari bagian daging merah hingga bagian berlemak atau toro, ditata di atas nasi. Kualitas bahan dan porsinya yang besar menjadi ciri khasnya.
Pada musimnya, sekitar Maret hingga Agustus, tersedia pula nama uni-don, nasi dengan topping gonad bulu babi segar tanpa bahan tambahan.

3. Akai Ringo Toko Utama
Akai Ringo Toko Utama dikelola oleh Okinaya, toko penganan tradisional Jepang yang berdiri sejak 1918.
Ciri khasnya adalah penganan bercita rasa lokal yang banyak memanfaatkan apel produksi Aomori.
Toko ini tetap menggunakan cara pembuatan tradisional yang membutuhkan waktu dan ketelatenan untuk menghadirkan kelezatan bahan-bahannya.
Salah satu produk yang memiliki banyak penggemar, baik di dalam maupun di luar Prefektur Aomori, adalah “Heart Apple Pie”.
Pai ini dibuat dengan potongan apel Kogyoku asal Aomori dalam jumlah melimpah, yang diletakkan mentah di atas adonan pai lalu dipanggang.

3 Tempat Belanja Pilihan di Aomori
Banyak tempat belanja di Aomori menampilkan kekhasan daerahnya, sehingga Anda dapat menemukan daya tarik Aomori sambil berbelanja.
Berikut pilihan tempat belanja yang patut Anda kunjungi saat ingin berbelanja di Aomori.
1. A-FACTORY
Jika ingin singgah di suatu tempat untuk menutup perjalanan di Prefektur Aomori, A-FACTORY bisa menjadi pilihan.
Di sini tersedia beragam bahan makanan, barang keperluan sehari-hari, kerajinan tradisional, dan kuliner yang mengutamakan produk lokal Aomori.
Di area pasar lantai 1, Anda dapat membeli bahan makanan dan produk khas daerah.
Terdapat pula restoran dan pujasera dengan menu yang banyak memanfaatkan bahan asal Aomori, termasuk toko hidangan manis yang menggunakan telur segar dari ayam yang dipelihara di Aomori. Di lantai 2, ada kedai galette yang menggunakan tepung soba produksi Aomori. Anda pun dapat menikmati kuliner lokal di dalam bangunan ini.

2. MACURE HOUSE Cabang Bandara Aomori
MACURE HOUSE merupakan perusahaan lokal yang menjual teh, selai, penganan manis, dan produk lainnya berbahan baku dari Prefektur Aomori.
Toko yang terletak di lantai 2 terminal penumpang Bandara Aomori ini menjual produk orisinal khas Aomori yang memanfaatkan apel serta hasil pertanian musiman.
Daya tariknya adalah produk dengan pengolahan sederhana yang mempertahankan cita rasa asli bahan. Tempat ini cocok untuk memilih oleh-oleh khas Aomori.

3. Aoi Mori Wando
Toko di Aomori, daerah penghasil apel terbesar di Jepang, ini mengusung konsep “menikmati apel dengan cara yang lebih menyenangkan dan lezat”.
Setelah berkali-kali melakukan uji coba, pemiliknya menciptakan seri “Ringo de Shokutaku”, yang disebut sebagai rangkaian bumbu berbahan apel pertama di Aomori, dengan kandungan daging buah apel Aomori yang melimpah.
Pilihannya beragam, mulai dari miso, mentega, kecap asin, mayones, saus tomat, hingga garam apel.
Toko ini direkomendasikan bagi Anda yang ingin mendapatkan oleh-oleh unik.

3 Rekomendasi Penginapan di Aomori
Jika menginap di Aomori, pilihlah akomodasi dengan daya tarik pemandian air panas.
Beragam fasilitas tersedia di kawasan onsen. Berikut beberapa penginapan yang secara khusus kami rekomendasikan.
1. Yachi Onsen, Salah Satu dari Tiga Onsen Terpencil Utama Jepang
Yachi Onsen di Prefektur Aomori telah digunakan selama lebih dari 400 tahun dan dikenal sebagai salah satu dari tiga onsen terpencil utama Jepang, bersama Iyakei Onsen di Prefektur Tokushima dan Niseko Onsen di Hokkaido.
Penginapan dengan pemandian air panas yang mempertahankan suasana tempat terapi berendam tradisional ini berdiri di kaki Pegunungan Hakkoda, salah satu dari 100 Gunung Terkenal Jepang.
Lokasinya yang dikelilingi alam dengan hamparan lahan rawa Yachi di sekitarnya juga menjadi daya tarik.
Tersedia total 36 kamar yang tersebar di bangunan utama, bangunan timur, dan bangunan barat. Setiap kamar memiliki jendela lebar untuk menikmati pemandangan yang berubah mengikuti musim.

2. Hoshino Resorts Aomoriya
Aomoriya adalah penginapan tradisional dengan pemandian air panas yang bisa disebut sebagai “taman rekreasi bertema Aomori”. Di sini, Anda dapat mengenal budaya Aomori melalui festival, masakan daerah, dan tradisi terapi berendam. Di dalam kompleksnya juga terdapat taman alam yang rimbun dengan kolam dan rumah-rumah tradisional tua.
Penginapan ini memiliki 236 kamar di 3 bangunan, dengan desain Jepang modern yang menghadirkan kenyamanan seolah sedang bersantai di kampung halaman.
Tersedia pula kamar khas Aomori yang dihiasi nebuta di berbagai sudut, termasuk ruang duduk dan kamar tidur.

3. Koganezaki Furofushi Onsen
Penginapan tradisional dengan pemandian air panas ini berada di kaki Pegunungan Shirakami Sanchi. Nama Furofushi Onsen, yang berarti “pemandian awet muda dan abadi”, berasal dari harapan pendirinya: “Dengan memulihkan kesehatan di sini, orang tidak akan menua atau melemah.”
Banyak tamu menginap untuk menikmati kolam pemandian terbuka di tepi pantai yang hanya berjarak 1 m dari laut.
Pengalaman berendam terasa istimewa saat menyaksikan matahari terbenam yang menyelimuti seluruh pemandangan dengan warna keemasan.
Airnya yang berwarna cokelat kemerahan mengandung banyak zat besi dan garam, memiliki efek antibakteri yang bermanfaat bagi luka, serta berkhasiat menghaluskan kulit. Anda dapat berendam sepuasnya dalam air panas yang terus dialirkan langsung dari sumbernya tanpa disirkulasikan kembali.

3 Acara di Aomori yang Patut Anda Ikuti
Berikut festival dan acara yang menjadi ciri khas Aomori.
Semuanya menawarkan pengalaman indah dan menarik yang mencerminkan budaya Jepang maupun Aomori.
Acara-acara ini dapat menjadi kenangan berkesan dalam perjalanan Anda. Jika jadwalnya sesuai, sempatkanlah untuk ikut menikmatinya.
1. Festival Aomori Nebuta
Festival Aomori Nebuta diselenggarakan di pusat Kota Aomori setiap tahun selama 6 hari, dari 2 hingga 7 Agustus, dan biasanya menarik sekitar 1 juta pengunjung. Catatan tertua tentang festival bersejarah ini berasal dari akhir zaman Edo, sekitar 1842. Festival ini merupakan salah satu dari tiga festival besar Tohoku dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Rakyat Takbenda Penting Jepang.
Ciri khas Festival Aomori Nebuta adalah nebuta berukuran raksasa.
Ukurannya dapat mencapai tinggi 5 m, lebar 9 m, dan panjang 7 m. Setiap tahun, para perajin yang disebut nebuta-shi membuatnya dengan tangan khusus untuk enam hari penyelenggaraan festival.

2. Festival Seni Internasional Sanriku
Festival seni ini dimulai pada 2014, berawal dari kegiatan para penari kontemporer yang mengunjungi daerah terdampak Gempa Besar Jepang Timur untuk mendukung pemulihan.
Pada awalnya, festival ini melibatkan 4 kota dan desa di Sanriku. Sejak 2018, pemerintah kota dan desa di Sanriku, Prefektur Iwate, serta organisasi swasta bekerja sama, dan kini penyelenggaraannya mencakup 15 kota dan desa di Sanriku.

3. Hachinohe Sansha Taisai
Festival tahunan gabungan tiga kuil Shinto—Kuil Ogami, Kuil Chojasan Shinra, dan Kuil Shinmeigu—ini biasanya berlangsung selama 5 hari, dari 31 Juli hingga 4 Agustus.
Festival terbesar di wilayah Hachinohe ini disebut bermula pada tahun ke-6 era Kyoho (1721), dengan sejarah dan tradisi yang telah berlangsung lebih dari 300 tahun.
Pada Februari 2004, “Rangkaian Acara Kereta Hias Hachinohe Sansha Taisai” ditetapkan sebagai Warisan Budaya Rakyat Takbenda Penting Jepang. Pada Desember 2016, acara ini juga terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

Penutup
Saat berwisata ke Aomori, sempatkanlah mengunjungi tempat-tempat yang telah diperkenalkan di sini untuk menikmati alam dan budaya tradisionalnya.
Agar perjalanan semakin menyenangkan, susunlah rencana wisata yang juga memberi waktu untuk melepas lelah dengan berendam di onsen.
Jika masih memiliki waktu dalam perjalanan, cobalah menyeberangi Selat Tsugaru dengan feri dari Aomori untuk mengunjungi Hakodate di Hokkaido.
Penulis