Bukan Hanya Danau Biwa! 17 Destinasi Wisata Pilihan untuk Menikmati Shiga Sepenuhnya

Bukan Hanya Danau Biwa! 17 Destinasi Wisata Pilihan untuk Menikmati Shiga Sepenuhnya

Terakhir diperbarui :
Ditulis oleh:  GOOD LUCK TRIP

Seperenam wilayah Prefektur Shiga ditempati Danau Biwa, danau terbesar di Jepang.
Danau Biwa dan berbagai destinasi di sekitarnya memang terkenal sebagai tujuan wisata Shiga. Namun, pesona prefektur ini tidak terbatas pada danaunya saja.
Masih banyak daya tarik yang belum banyak dikenal, mulai dari kuil Shinto dan Buddha bersejarah seperti Kuil Enryakuji di Gunung Hiei yang merupakan Situs Warisan Dunia, hingga kuliner seperti daging sapi Omi.
Artikel ini tidak hanya memperkenalkan Danau Biwa dan tempat wisata di sekitarnya, tetapi juga berbagai destinasi lain, kuliner, dan pilihan akomodasi.

Seperti Apa Prefektur Shiga?

Prefektur Shiga terletak hampir di tengah Jepang.
Wilayahnya kaya akan alam: seperenam luasnya ditempati Danau Biwa, danau terbesar di Jepang, sementara separuh dari wilayah sisanya berupa pegunungan.
Karena itu, Anda dapat menikmati panorama megah dan beragam, termasuk pemandangan yang dikenal sebagai “Delapan Pemandangan Danau Biwa” dan “Delapan Pemandangan Omi”.
Shiga juga merupakan simpul transportasi yang perekonomian dan budayanya telah berkembang sejak dahulu. Situs bersejarah dan kawasan kota bernuansa masa lampau menjadi ciri khasnya.
Budaya kulinernya pun kaya dan bercita rasa khas, termasuk aneka hidangan ikan danau yang tidak ditemukan di prefektur lain. Banyak sajian hanya bisa dinikmati di Shiga.

Prefektur Shiga dengan alamnya yang melimpah
Prefektur Shiga dengan alamnya yang melimpah

Kapan Waktu Terbaik untuk Berwisata ke Shiga?

Di Shiga, Anda dapat menikmati pemandangan khas setiap musim sepanjang tahun.
Namun, jika ingin menikmati kekayaan alamnya sepenuhnya, bulan April hingga Mei yang curah hujannya rendah, serta bulan Agustus setelah musim hujan berakhir, merupakan waktu yang disarankan.

Pilihan Pakaian untuk Setiap Musim di Shiga

  • Musim semi (Maret–Mei): Jaket ringan dan sweter tipis
  • Musim panas (Juni–Agustus): Pakaian tipis dan baju lengan pendek
  • Musim gugur (September–November): Jaket ringan dan mantel
  • Musim dingin (Desember–Februari): Mantel, sweter tebal, atau jaket tebal

Bagaimana Cara Menuju Shiga?

Shiga mudah dijangkau dari kota-kota besar: sekitar 2 jam 30 menit dengan Shinkansen dari Tokyo, 40 menit dengan kereta Special Rapid jalur Kyoto dari Osaka, dan 27 menit dengan Shinkansen dari Nagoya.
Meski Shiga tidak memiliki bandara, prefektur-prefektur di sekitarnya memiliki sejumlah bandara, termasuk Bandara Internasional Kansai dan Bandara Itami di Osaka, Bandara Internasional Chubu di Aichi, serta Bandara Kobe di Hyogo. Hal ini juga memudahkan akses dari luar negeri.

Transportasi Utama untuk Berwisata di Shiga

Jaringan transportasi umumnya lengkap. Anda dapat berkeliling dengan nyaman ke berbagai tempat wisata di sekitar Danau Biwa menggunakan kereta JR atau bus jalur Kogen.

17 Destinasi Wisata Pilihan yang Mewakili Pesona Shiga

Shiga memiliki banyak destinasi ternama, seperti Danau Biwa yang merupakan danau terbesar di Jepang, Kastel Hikone yang berstatus Pusaka Nasional, serta Kuil Enryakuji di Gunung Hiei yang terdaftar sebagai Situs Warisan Budaya Dunia.
Dari sekian banyak daya tariknya, berikut tempat-tempat wisata yang patut Anda kunjungi.

1. Danau Biwa

Terletak di bagian tengah Shiga, Danau Biwa termasuk dalam sistem Sungai Yodo yang berstatus sistem sungai kelas satu di Jepang. Luasnya sekitar 670 km² atau kurang lebih seperenam wilayah prefektur. Danau ini menampung 27,5 miliar ton air yang mengalir melalui sungai-sungai dari Gunung Ibuki, Pegunungan Suzuka, Pegunungan Hira, dan gunung-gunung di sekitarnya yang tingginya lebih dari 1.000 m. Baik dari segi luas maupun volume air, Danau Biwa merupakan yang terbesar di Jepang.
Danau ini juga merupakan salah satu danau purba, yang hanya sekitar 20 di antaranya telah teridentifikasi di seluruh dunia.

Danau Biwa, danau terbesar di Jepang yang terletak di bagian tengah Prefektur Shiga.
Danau Biwa, danau terbesar di Jepang yang terletak di bagian tengah Prefektur Shiga.

2. Pulau Chikubu

Chikubu adalah pulau kecil dengan keliling sekitar 2 km lebih, terletak sekitar 6 km dari tepi bagian utara Danau Biwa. Di pulau ini terdapat Kuil Hogonji, yang termasuk salah satu dari tiga tempat pemujaan utama Benzaiten di Jepang, serta Kuil Shinto Tsukubusuma.
Sejak dahulu, pulau ini dihormati sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Belakangan, pulau ini juga populer sebagai tempat yang dipercaya memiliki energi spiritual.

Pulau yang dihormati sebagai tempat bersemayamnya para dewa.
Pulau yang dihormati sebagai tempat bersemayamnya para dewa.

3. Situs Bersejarah Khusus Kastel Hikone

Kastel Hikone, yang juga dikenal sebagai Kastel Konki, terkenal sebagai kastel yang dibangun dengan memanfaatkan kembali material kastel-kastel lain. Menara utamanya yang terdiri dari tiga lantai dan tiga tingkat atap dipindahkan dari Kastel Otsu di Kota Otsu. Pembangunannya juga memanfaatkan kayu, batu tembok, dan material lain dari kastel-kastel di sekitarnya, seperti Kastel Sawayama di Kota Hikone, Kastel Azuchi di Kota Omihachiman, dan Kastel Nagahama di Kota Nagahama.
Menara utama yang berdiri di puncak Gunung Hikone ini merupakan salah satu dari 12 menara utama kastel asli yang masih bertahan di Jepang. Pada 1952, menara tersebut ditetapkan sebagai Pusaka Nasional bersama menara tambahan Tsukeyagura dan menara memanjang Tamonyagura.

Menara utama Kastel Hikone yang ditetapkan sebagai Pusaka Nasional
Menara utama Kastel Hikone yang ditetapkan sebagai Pusaka Nasional

4. Kuil Enryakuji di Gunung Hiei, Pusat Utama Aliran Tendai

Kompleks kuil yang luas ini mencakup kawasan Gunung Hiei setinggi 848 m. Kuil ini didirikan pada 788 oleh Saicho, pendiri aliran Buddha Tendai. Oda Nobunaga, yang berseteru dengan pihak Gunung Hiei, membakar aula, pagoda, bangunan kuil di gunung, serta kediaman para biksu di Sakamoto. Namun, kompleks ini kemudian dipulihkan dan dibangun kembali oleh tokoh-tokoh seperti Kannonji Senshun, Yakuin Zenso, dan biksu agung Tenkai.
Enryakuji berperan sebagai pusat pendidikan yang mencakup berbagai ajaran Buddha. Dijuluki “gunung induk Buddhisme Jepang”, tempat ini memberi pengaruh besar pada sejarah Jepang. Pada 1994, kuil ini terdaftar sebagai Situs Warisan Budaya Dunia.

Kompleks kuil megah yang terbagi menjadi tiga kawasan dan mencakup seluruh gunung.
Kompleks kuil megah yang terbagi menjadi tiga kawasan dan mencakup seluruh gunung.

5. Kuil Shirahige

Kuil Shinto ini berdiri di sisi barat laut Danau Biwa, danau terluas di Jepang. Diperkirakan telah berdiri lebih dari 2.000 tahun, Shirahige merupakan kuil besar tertua di wilayah Omi. Sebuah gerbang torii besar berwarna merah berdiri di tengah danau, di seberang Jalan Nasional 161 dari kompleks kuil. Pemandangannya mengingatkan pada Kuil Itsukushima di Miyajima, Prefektur Hiroshima, sehingga tempat ini juga dijuluki “Itsukushima dari Omi”.
Shirahige merupakan kuil pusat dari banyak kuil bernama Shirahige di seluruh Jepang dan memuja dewa Sarutahiko no Mikoto. Sesuai namanya, yang berarti “janggut putih”, kuil ini sejak dahulu dihormati sebagai tempat pemujaan dewa berjanggut putih yang melambangkan umur panjang dan dipercaya memberikan berkah panjang umur.

Gerbang torii besar yang tampilannya berubah dari waktu ke waktu ini patut disaksikanBiwako Visitors Bureau (Asosiasi Berbadan Hukum untuk Kepentingan Publik)
Gerbang torii besar yang tampilannya berubah dari waktu ke waktu ini patut disaksikanBiwako Visitors Bureau (Asosiasi Berbadan Hukum untuk Kepentingan Publik)

6. Kuil Taga Taisha

Kuil Shinto utama di wilayah Omi ini dihormati oleh masyarakat dari seluruh Jepang sebagai tempat pemujaan dewa-dewi asal kehidupan. Berkah yang dipercaya dapat diperoleh di sini meliputi kesembuhan dari penyakit, umur panjang, jodoh, dan perlindungan dari kemalangan.
Para panglima pada zaman Sengoku pun sangat menghormatinya. Takeda Shingen berdoa untuk menolak bala, sedangkan Toyotomi Hideyoshi memohon agar ibunya diberi umur panjang. Akrab disebut “Otaga-san”, kuil ini hingga kini dikunjungi sekitar 1,7 juta peziarah setiap tahun.

Bangunan utama kuil dengan latar pepohonan hijau yang rimbun. Luangkan waktu untuk berdoa dengan tenang.
Bangunan utama kuil dengan latar pepohonan hijau yang rimbun. Luangkan waktu untuk berdoa dengan tenang.

7. Kompleks Gedung Lama SD Toyosato

Kompleks gedung lama SD Toyosato dirancang oleh biro arsitektur Vories, yang berbasis di Kota Omihachiman, Prefektur Shiga, dan mulai mengerjakan berbagai proyek di seluruh Jepang sejak sekitar 1908.

Auditorium yang menyerupai kapel ini masih digunakan untuk kegiatan sekolah dan berbagai acara.
Auditorium yang menyerupai kapel ini masih digunakan untuk kegiatan sekolah dan berbagai acara.

8. MIHO MUSEUM

Museum seni ini berdiri di tengah pegunungan hijau Shigaraki, di bagian selatan Prefektur Shiga. Koleksinya berjumlah sekitar 3.000 karya, meliputi seni kuno dari Mesir, Yunani, Romawi, Asia Barat, Asia Selatan, dan Tiongkok, serta seni Jepang seperti seni Buddha dan seni yang berkaitan dengan upacara minum teh.
Bangunannya dirancang oleh I. M. Pei, arsitek yang juga merancang piramida kaca Museum Louvre di Paris, Prancis, serta Gedung Timur National Gallery of Art di Washington, Amerika Serikat.

Pintu masuk gedung museum yang menyuguhkan keindahan arsitektur dan panorama alam luas
Pintu masuk gedung museum yang menyuguhkan keindahan arsitektur dan panorama alam luas

9. Desa Ninjutsu Koka no Sato

Koka merupakan kawasan pedesaan pegunungan yang tenang, dikelilingi alam di kaki Pegunungan Suzuka. Tempat ini dikenal sebagai kota persinggahan di jalur Tokaido yang dahulu makmur, sekaligus tempat asal ninjutsu Koka.
Bersama Iga yang berada di sebelahnya, dipisahkan oleh perbukitan landai, Koka dikenal dalam sejarah sebagai kampung halaman ninja. Keduanya terdaftar sebagai Warisan Jepang dengan nama “Negeri Ninja Iga dan Koka”.
Di seluruh kawasan ini tersebar berbagai aset budaya yang menjadi bagian dari warisan tersebut, seperti kastel, kediaman, dan tempat latihan.

“Karakuri Yashiki”, rumah penuh mekanisme rahasia yang berasal dari kediaman ninja asli yang dipindahkan ke sini
“Karakuri Yashiki”, rumah penuh mekanisme rahasia yang berasal dari kediaman ninja asli yang dipindahkan ke sini

10. Museum Seni Sagawa

Museum swasta ini dibuka pada 1998 oleh perusahaan logistik Sagawa Express Co., Ltd. sebagai bagian dari peringatan 40 tahun berdirinya perusahaan.
Sebagian besar lahannya berupa taman air, yang menjadi ciri khas Museum Seni Sagawa. Permukaan airnya beriak tertiup angin dari Danau Biwa dan berkilauan memantulkan sinar matahari, menciptakan pemandangan yang sungguh indah. Tiga bangunan museum berdiri seolah mengapung di tengah taman air tersebut.

Museum ini menyimpan dan memamerkan karya tiga maestro seni kebanggaan Jepang di tingkat dunia. Arsitekturnya yang menyatu dengan alam juga merupakan karya seni kelas satu.
Museum ini menyimpan dan memamerkan karya tiga maestro seni kebanggaan Jepang di tingkat dunia. Arsitekturnya yang menyatu dengan alam juga merupakan karya seni kelas satu.

11. Kuil Ishiyamadera

Kuil ini merupakan salah satu pusat utama aliran Buddha Shingon dan berdiri di tepi Sungai Seta yang mengalir dari Danau Biwa. Bebatuan berbentuk unik mencuat di berbagai sudut kompleksnya, termasuk batu besar yang menjulang di depan aula utama.
Batuan tersebut adalah wollastonit, yang ditetapkan sebagai Monumen Alam dan tergolong langka di dunia. Karena berdiri di atas bukit batu, kuil ini dinamai “Ishiyamadera”, yang berarti kuil gunung batu.
Kuil ini didirikan pada 747, pada zaman Nara (710–794).

Kuil tempat Murasaki Shikibu memperoleh inspirasi untuk menulis Kisah Genji, berdiri di atas batuan wollastonit yang ditetapkan sebagai Monumen Alam.
Kuil tempat Murasaki Shikibu memperoleh inspirasi untuk menulis Kisah Genji, berdiri di atas batuan wollastonit yang ditetapkan sebagai Monumen Alam.

12. Jembatan Omi Ohashi

Jembatan di atas Danau Biwa ini menghubungkan Marunouchi di Kota Otsu dengan Shinahama di Kota Kusatsu, Prefektur Shiga. Dibuka pada 1974, jembatan ini awalnya berbayar, lalu menjadi gratis pada 2013. Ada dua jembatan yang melintasi Danau Biwa: Omi Ohashi ini dan Biwako Ohashi yang menghubungkan Kota Otsu dengan Kota Moriyama.
Panjangnya 1.290 m dan tingginya sekitar 12 m dari permukaan danau. Letaknya yang dekat dengan air serta desainnya membuat jembatan ini menyatu dengan lanskap Danau Biwa. Lengkungan landainya berpadu dengan pepohonan hijau di sekitar, membentuk pemandangan danau yang indah. Pemandangan menjelang malam pun tak kalah memukau, saat siluet jembatan tampak dengan latar langit senja.

Jembatan melengkung yang indah dan menyatu dengan pemandangan Danau Biwa
Jembatan melengkung yang indah dan menyatu dengan pemandangan Danau Biwa

13. Taman Yabase Kihanto

Taman ini dibangun di Yabase Kihanto, sebuah pulau buatan di Danau Biwa. Fasilitasnya mencakup area gratis untuk bermain, termasuk berbagai sarana ketangkasan, serta fasilitas berbayar seperti area berkemah, lapangan ground golf, dan kolam renang. Kawasannya yang hijau juga menyenangkan untuk berjalan-jalan santai.
Area bermain anak “Kodomo no Hiroba” yang gratis dilengkapi beragam permainan. Selain rangka panjat setinggi 10 m yang paling populer, anak-anak dapat menikmati perosotan rol, trampolin, lintasan luncur dengan tali ala Tarzan, dan berbagai permainan ketangkasan lainnya. Di dekatnya terdapat lapangan rumput luas “Oharappa Hiroba” untuk piknik, menjadikannya tempat yang cocok untuk rekreasi keluarga.

Nikmati rekreasi dan olahraga di taman yang berada di sebuah pulau di Danau Biwa
Nikmati rekreasi dan olahraga di taman yang berada di sebuah pulau di Danau Biwa

14. Air Mancur Biwako Hana

Pelabuhan Otsu merupakan pusat wisata Danau Biwa yang ramai, dengan dermaga dan terminal bagi kapal wisata besar maupun kapal kecil. “Air Mancur Biwako Hana”, yang terpasang di pemecah ombak sekitar 180 m dari pelabuhan, adalah objek wisata yang dapat dinikmati secara gratis.
Terdapat total 66 pancuran yang berjajar di sepanjang pemecah ombak. Membentang sekitar 440 m, air mancur ini termasuk salah satu yang terbesar di dunia. Semburan airnya mencapai ketinggian sekitar 40 m, setara dengan gedung 10 lantai. Volume dan sudut semburan diatur komputer sehingga menghasilkan beragam pola yang dapat dinikmati.

Air mancur besar yang menghiasi Danau Biwa, tampak menyegarkan pada siang hari dan memancarkan suasana magis pada malam hari
Air mancur besar yang menghiasi Danau Biwa, tampak menyegarkan pada siang hari dan memancarkan suasana magis pada malam hari

15. Takashima Blueberry Farm

Kebun tempat memetik bluberi ini berada di perbatasan Makino dan Imazu di Kota Takashima, di kawasan utara Danau Biwa yang kaya akan alam.
Di kaki Gunung Hakodate, Anda dapat menikmati sepuasnya bluberi lezat yang ditanam dengan air alami yang melimpah.
Bluberi mengandung banyak antioksidan yang dipercaya membantu melawan penuaan. Dalam penelitian beberapa tahun terakhir, buah ini disebut sebagai rajanya buah super.
Kebun ini buka selama sekitar dua bulan, dari akhir Juni hingga akhir Agustus.
Di lahannya yang luas terdapat sekitar 660 tanaman dari lebih dari 20 varietas bluberi. Anda juga dapat membandingkan rasa manis, rasa asam, dan tekstur yang sedikit berbeda pada setiap varietas.

Nikmati bluberi matang sepuasnya tanpa batas waktu
Nikmati bluberi matang sepuasnya tanpa batas waktu

16. Fruits Park Yohei

Fruits Park Yohei membudidayakan pohon buah di lahan seluas sekitar 10.000 m² dengan mengutamakan pupuk organik dan penggunaan pestisida yang rendah.
Dari awal Agustus hingga pertengahan Oktober, pengunjung dapat memetik pir dan menikmati buahnya yang manis serta berair sepuasnya tanpa batas waktu.

Kebun buah tempat Anda dapat menikmati pir yang berair tanpa batas waktu
Kebun buah tempat Anda dapat menikmati pir yang berair tanpa batas waktu

17. Kuil Hakusan

Kuil Shinto ini merupakan kuil pelindung Chojiji, kuil Buddha kuno berstatus Pusaka Nasional yang termasuk dalam kelompok tiga kuil Konan Sanzan. Hakusan terletak di dataran tinggi tepat di sebelah barat Chojiji.
Menurut tradisi, kuil ini didirikan pada era Jogan (859–877) pada zaman Heian. Setelah sempat mengalami kemunduran, kuil ini dipulihkan bersama Chojiji oleh Minamoto no Yoritomo pada tahun kedua era Juei (1183).
Kompleksnya dikelilingi pepohonan dan tampak sangat indah saat dedaunan berubah warna pada musim gugur.

Kuil pelindung Chojiji, dengan aula pemujaan yang ditetapkan sebagai Properti Budaya Penting nasional
Kuil pelindung Chojiji, dengan aula pemujaan yang ditetapkan sebagai Properti Budaya Penting nasional

Menikmati Wisata Perahu di Shiga: 2 Pilihan Populer

Di Shiga, Anda juga dapat menikmati wisata perahu di Danau Biwa dan kanal-kanal yang mengalir ke danau tersebut.
Dari atas perahu, rasakan kemegahan panorama Danau Biwa serta nuansa kota kastel yang masih begitu terasa di Shiga.

1. Pelayaran Chikubushima oleh Biwako Kisen

Pulau Chikubu, pulau kecil berkeliling sekitar 2 km di bagian utara Danau Biwa, merupakan tempat yang dipercaya memiliki energi spiritual dan telah dihormati sejak dahulu.
Pulau ini tidak dapat dicapai dengan kereta ataupun berjalan kaki, jadi gunakanlah kapal wisata yang nyaman untuk menuju ke sana. Anda dapat mengikuti “Pelayaran Chikubushima” yang berangkat dari Pelabuhan Nagahama di sisi timur danau atau Pelabuhan Imazu di sisi barat. Kawasan sekitar Pelabuhan Imazu masih memiliki deretan bangunan bernuansa tempo dulu yang mempertahankan suasana kota persinggahan lama. Sementara itu, kawasan Pelabuhan Nagahama masih menyisakan suasana kota kastel yang dahulu makmur. Berwisata di sekitar kedua pelabuhan ini pun menyenangkan.

Naik kapal wisata yang nyaman menuju pulau penuh misteri di Danau Biwa
Naik kapal wisata yang nyaman menuju pulau penuh misteri di Danau Biwa

2. Wisata Perahu di Kawasan Perairan Omihachiman

Omihachiman bermula ketika Toyotomi Hideyoshi memerintahkan keponakannya, Hidetsugu, untuk membangun Kastel Hachimanyama sebagai pusat wilayah Omi, menggantikan Kastel Azuchi. Kapal-kapal yang melintasi Danau Biwa diarahkan masuk ke Hachimanbori, parit bagian dalam Kastel Hachimanyama. Hal ini menjadikan kawasan tersebut pusat perekonomian Omi, sekaligus tempat asal para pedagang Omi yang kemudian berkembang pesat.
Wisata perahu di kawasan perairan Omihachiman konon bermula sekitar 400 tahun lalu, ketika Hidetsugu mengadakan pertemuan berpuisi di atas perahu dengan meniru rekreasi perahu yang anggun di lingkungan istana. Kini, juru perahu berpengalaman menggerakkan dayung dan galah dengan terampil, membawa perahu menyusuri perairan yang menawan dengan santai.

Susuri perairan penuh pesona dengan santai di atas perahu, seperti yang dahulu juga dinikmati para panglima
Susuri perairan penuh pesona dengan santai di atas perahu, seperti yang dahulu juga dinikmati para panglima

3 Restoran Populer di Shiga

Shiga memiliki begitu banyak hidangan khas hingga sulit memperkenalkan semuanya, mulai dari olahan ikan danau hingga hidangan hot pot bebek.
Namun, jika membahas kuliner Shiga, yang paling tidak boleh dilewatkan tentu saja daging sapi Omi.
Berikut restoran populer untuk menikmati daging sapi Omi, serta restoran bersejarah yang menyajikan makanan kesayangan masyarakat Shiga.

1. Chanpontei Sohonke, Restoran Utama di Depan Stasiun Hikone

Restoran spesialis Omi champon ini mewarisi cita rasa “Menrui Okabe”, yang dibuka pada 1963. Dengan sekitar 70 cabang di Jepang, restoran ini juga berperan besar dalam memperkenalkan Omi champon ke seluruh negeri. Omi champon merupakan makanan kesayangan masyarakat Shiga berupa mi dalam kaldu Jepang berwarna keemasan, dengan isian melimpah berupa daging babi dan sayuran seperti kol, taoge, serta jamur kuping.

Nikmati Omi champon, makanan kesayangan masyarakat Shiga, langsung di daerah asalnya.
Nikmati Omi champon, makanan kesayangan masyarakat Shiga, langsung di daerah asalnya.

2. Omi Beef Morishima, Restoran Utama Omihachiman

Daging sapi Omi termasuk salah satu dari tiga jenis wagyu utama Jepang.
Hal yang paling membedakan restoran ini dari restoran penyaji daging sapi Omi lainnya adalah penggunaan daging dari sapi yang dipelihara dengan telaten selama sekitar dua setengah tahun di peternakan milik sendiri. Dagingnya memiliki pola lemak marmer yang merata dan seimbang sehingga tampak cantik. Saat disantap, teksturnya terasa lumer, sementara sari daging yang semakin manis ketika dikunyah menyebar di mulut. Inilah sajian istimewa yang menghadirkan kenikmatan bersantap.

Menu andalan: paket hidangan daging panggang di atas batu panas
Menu andalan: paket hidangan daging panggang di atas batu panas

3. Restoran Sennaritei

Sennaritei didirikan pada 1957 di Hashimoto, Kota Hikone, tempat asal daging sapi Omi.
Restoran ini didirikan dengan harapan agar semakin banyak orang dapat menikmati daging sapi Omi dan tradisinya dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Paket makan siang sukiyaki daging sapi Omi
Paket makan siang sukiyaki daging sapi Omi

3 Kawasan Belanja Pilihan di Shiga

Setelah menikmati kemegahan alam serta kekayaan sejarah dan budaya Shiga, luangkan waktu untuk berbelanja.
Shiga juga memiliki banyak pusat perbelanjaan. Temukan produk khas daerah dan barang-barang yang hanya bisa dibeli di sini.

1. Kurokabe Square

Dari pertengahan 1960-an hingga beberapa tahun setelah 1985, pusat kota ini mengalami kemunduran akibat berkurangnya aktivitas perkotaan. Namun, kawasan ini kembali bangkit melalui revitalisasi yang berpusat pada kerajinan kaca.
Kurokabe Co., Ltd., perusahaan patungan pemerintah dan swasta yang didirikan untuk menghidupkan kembali kawasan serta melestarikan arsitektur tradisional, memimpin pemugaran bangunan-bangunan tradisional di pusat kota.
Kawasan “Kurokabe Square”, yang dilengkapi toko kerajinan kaca, kelas praktik, restoran, dan fasilitas lainnya, kini menjadi destinasi terkenal yang dikunjungi hingga 2 juta wisatawan setiap tahun.

Toko serta tempat mencoba kerajinan dan seni berkumpul di antara deretan bangunan tradisional bernuansa tempo dulu.
Toko serta tempat mencoba kerajinan dan seni berkumpul di antara deretan bangunan tradisional bernuansa tempo dulu.

2. Mitsui Outlet Park Shiga Ryuo

Pusat perbelanjaan outlet besar yang termasuk salah satu yang terbesar di wilayah Kinki ini terletak tepat setelah pintu keluar Ryuo di Jalan Tol Meishin. Akses yang sangat mudah menjadi salah satu daya tariknya.

Pusat perbelanjaan outlet besar dengan sekitar 230 toko merek Jepang dan internasional.
Pusat perbelanjaan outlet besar dengan sekitar 230 toko merek Jepang dan internasional.

3. Ekimachi Terrace Nagahama

Pusat perbelanjaan yang terhubung langsung dengan Stasiun JR Nagahama ini menampung 24 gerai, termasuk tempat makan. Di antara toko khususnya terdapat “Nagahama Kurashi Note Store”, yang dikembangkan oleh Nagahama Seikatsu Bunka Kenkyujo, lembaga kajian kehidupan dan budaya Nagahama. Dengan pilihan produk yang berfokus pada “barang yang hanya ada di Nagahama” dan “barang yang hanya dapat dibuat oleh perajin tertentu”, toko ini terasa seperti museum yang memperkenalkan kehidupan Nagahama. Ada pula “QUON Chocolate Nagahama”, yang menjual cokelat buatan berbagai lembaga kesejahteraan sosial dari seluruh Jepang.

Terhubung langsung dengan Stasiun JR Nagahama, pusat perbelanjaan ini memiliki restoran dan toko-toko khusus berkonsep kreatif, sekaligus memperkenalkan wisata serta budaya kehidupan Nagahama dan Danau Biwa.
Terhubung langsung dengan Stasiun JR Nagahama, pusat perbelanjaan ini memiliki restoran dan toko-toko khusus berkonsep kreatif, sekaligus memperkenalkan wisata serta budaya kehidupan Nagahama dan Danau Biwa.

Menginap di Shiga: 3 Akomodasi Pilihan

Karena kegiatan wisata di Shiga umumnya berpusat di sekitar Danau Biwa, menginap di kawasan danau tentu akan memudahkan perjalanan Anda.
Bagi Anda yang sedang mencari akomodasi di sekitar Danau Biwa, berikut pilihan hotel dengan panorama danau serta hotel yang menawarkan pemandian air panas.

1. Lake Biwa Otsu Prince Hotel

Hotel tinggi berlantai 38 ini dirancang oleh arsitek Kenzo Tange. Hotel ini juga memiliki gedung konvensi yang termasuk salah satu yang terbesar di Jepang, dan digunakan untuk beragam kegiatan seperti acara, pameran, serta konferensi internasional.
Kamar-kamarnya terbagi dalam tiga kategori lantai: EIZAN Floor, Sky Floor, dan Lake Floor. Di kamar mana pun, Anda dapat bersantai sambil memandang Danau Biwa serta jajaran pegunungan seperti Pegunungan Hira.

Nikmati panorama Danau Biwa yang menakjubkan dari hotel tertinggi di prefektur ini.
Nikmati panorama Danau Biwa yang menakjubkan dari hotel tertinggi di prefektur ini.

2. Setre Marina Biwako

Hotel resor yang berdiri di tepi Danau Biwa ini menawarkan pemandangan danau yang membentang di depan mata, tidak hanya dari kamar, tetapi juga dari seluruh bagian hotel.
Tema “Lahir di Shiga” terasa dalam kuliner maupun berbagai sudut interiornya. Hotel ini populer sebagai tempat menikmati pengalaman menginap mewah sambil sejenak melupakan rutinitas sehari-hari.

Hotel resor kecil di tepi danau dengan hanya 14 kamar, cocok untuk menikmati suasana menginap yang privat.
Hotel resor kecil di tepi danau dengan hanya 14 kamar, cocok untuk menikmati suasana menginap yang privat.

3. Biwako Hotel

Hotel resor di tepi Danau Biwa ini menawarkan pemandangan danau dari dalam bangunannya, sekaligus lokasi strategis yang hanya berjarak berjalan kaki singkat dari Stasiun Biwako-Hamaotsu di jalur Keihan.
Tersedia lima tipe kamar, dan semuanya menawarkan panorama Danau Biwa. Selain pemandian terbuka, pemandian dalam ruangnya pun memiliki jendela besar sehingga Anda dapat berendam sambil menikmati pemandangan danau.

Nikmati waktu istimewa di luar rutinitas di hotel yang seluruh kamarnya menghadap danau.
Nikmati waktu istimewa di luar rutinitas di hotel yang seluruh kamarnya menghadap danau.

3 Oleh-Oleh Khas Shiga yang Populer

Setelah puas berwisata di Shiga, bawalah pulang kuliner khasnya sebagai oleh-oleh untuk teman, kenalan, maupun diri sendiri. Jika ingin pilihan yang tidak mengecewakan, pertimbangkan oleh-oleh khas dan populer berikut.

1. “Dry Baum” dari Club Harie

“Dry Baum” merupakan salah satu produk populer Club Harie, toko kue bergaya Barat yang terkenal dengan baumkuchen-nya. Club Harie merupakan bagian dari Taneya, toko kue tradisional Jepang yang telah berdiri sejak 1872 di Kota Omihachiman, Prefektur Shiga.
Baumkuchen yang dipanggang dengan telaten lapis demi lapis oleh para perajin diiris tipis, dilapisi fondan manis pada permukaannya, lalu dipanggang kembali dalam oven hingga renyah.

Camilan dengan tekstur berbeda, dibuat dengan mengiris tipis dan memanggang kembali baumkuchen, produk andalan Club Harie
Camilan dengan tekstur berbeda, dibuat dengan mengiris tipis dan memanggang kembali baumkuchen, produk andalan Club Harie

2. “Funazushi Honzuke” dari Uoji

Ikan fermentasi ini merupakan produk andalan toko bersejarah yang bermula sebagai toko ikan pada tahun keempat era Tenmei (1784).
Dari Februari hingga Mei, ikan nigorobuna betina yang bentuknya bagus dan perutnya penuh telur dipilih dengan saksama. Proses pembuatan funazushi dimulai pada hari yang sama.
Ikan diasinkan selama tiga bulan, kemudian diperam bersama nasi pada masa doyo di musim panas, saat bakteri asam laktat aktif. Setelah itu, ikan dimatangkan secara perlahan selama hampir dua tahun melalui proses yang membutuhkan banyak waktu dan ketelatenan.

Sajian istimewa yang dibuat dengan telaten melalui metode tradisional
Sajian istimewa yang dibuat dengan telaten melalui metode tradisional

3. “Ajitsuke Hachiman Konnyaku” dari Norimatsu Shokuhin Yoshii Shoten

Produk istimewa dari toko yang berdiri sejak tahun ke-24 era Meiji (1891) ini menggunakan konnyaku merah, olahan umbi konjak khas Prefektur Shiga.
Konnyaku merah buatan sendiri yang bertekstur halus dan cukup lembut direbus perlahan dalam bumbu berbasis kecap asin Jepang dengan cita rasa ikan bonito.
Karena bisa langsung disajikan, produk ini praktis saat Anda membutuhkan satu hidangan tambahan, baik sebagai pendamping nasi maupun selingan di antara hidangan lain.
Jika dilapisi adonan lalu digoreng, konnyaku ini berubah menjadi tempura sekali suap yang memuaskan.

Hidangan khas Omihachiman yang berwarna menarik dan siap disajikan langsung
Hidangan khas Omihachiman yang berwarna menarik dan siap disajikan langsung

3 Festival di Shiga yang Patut Dikunjungi

Shiga memiliki banyak acara yang menghadirkan suasana khas setiap musim sekaligus kesempatan menikmati budaya tradisional. Jika waktu kunjungan Anda bertepatan, sempatkan menghadiri festival-festival berikut.

1. Festival Otsu

Sebagai salah satu dari “Tiga Festival Besar Negeri Danau”, festival ini menjadi tradisi yang menandai datangnya musim gugur di Shiga.
Festival ini merupakan perayaan Kuil Tenson, yang terletak di pusat Kota Otsu di sisi barat daya Danau Biwa, dan telah ditetapkan sebagai Properti Budaya Rakyat Takbenda Penting nasional.
Daya tarik utamanya adalah arak-arakan megah 13 kereta hias hikiyama buatan zaman Edo yang ditarik menyusuri kota.
Setiap kereta hias berukuran tinggi 6 m, lebar sekitar 3 m, dan panjang sekitar 5,2 m. Hiasan serta ukirannya berbeda-beda, memikat siapa pun yang menyaksikannya.

Festival musim gugur yang megah dan semarak dengan sejarah lebih dari 400 tahun
Festival musim gugur yang megah dan semarak dengan sejarah lebih dari 400 tahun

2. Festival Nabekanmuri

Di Kuil Chikuma, yang terletak di tepi Danau Biwa, danau terbesar di Jepang, “Festival Nabekanmuri” diselenggarakan setiap tanggal 3 Mei untuk menandai datangnya musim semi.
Festival yang sangat unik ini terkenal sebagai salah satu dari “Tiga Festival Aneh Utama Jepang”, bersama “Festival Agata di Uji” di Prefektur Kyoto dan “Etchu Torisaka no Shiritataki” di Prefektur Toyama. Festival ini juga ditetapkan sebagai Properti Budaya Rakyat Takbenda oleh Kota Maibara, Prefektur Shiga, tempat kuil tersebut berada.

Disebut sebagai salah satu dari Tiga Festival Aneh Utama Jepang. Festival unik yang hanya dapat ditemukan di tempat ini di seluruh Jepang.
Disebut sebagai salah satu dari Tiga Festival Aneh Utama Jepang. Festival unik yang hanya dapat ditemukan di tempat ini di seluruh Jepang.

3. Festival Nagahama Hikiyama

Festival Nagahama Hikiyama memiliki sejarah sekitar 450 tahun dan termasuk salah satu dari tiga festival kereta hias utama Jepang. Festival ini juga ditetapkan sebagai Properti Budaya Rakyat Takbenda Penting nasional. Diselenggarakan setiap tahun pada 9–17 April di seluruh kawasan kota Nagahama, festival ini menghibur pengunjung melalui berbagai kegiatan, termasuk hadaka-mairi, ritual kunjungan doa oleh para pemuda dengan pakaian minim.

Salah satu dari tiga festival kereta hias utama Jepang yang terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Pertunjukan kabuki anak-anaknya patut disaksikan.
Salah satu dari tiga festival kereta hias utama Jepang yang terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Pertunjukan kabuki anak-anaknya patut disaksikan.

Penutup

Itulah beragam pesona Shiga, yang tidak terbatas pada Danau Biwa dan kawasan sekitarnya.
Saat berwisata di Shiga, sempatkan mengunjungi destinasi-destinasi yang telah diperkenalkan di atas.
Dari Shiga, kota besar Osaka dan Nagoya juga dapat dicapai dengan kereta dalam waktu sekitar 30–40 menit.
Setelah menikmati alam dan sejarah, bagaimana jika melanjutkan perjalanan untuk merasakan daya tarik khas kota besar di Osaka dan Nagoya?

Hokkaido Tohoku Kanto Chubu Hokuriku Kansai Chugoku Shikoku Kyushu Okinawa