
Nikmati Budaya Tradisional Jepang dan Onsen Tersembunyi! 21 Destinasi Wisata Pilihan di Akita
Akita masih menyimpan banyak pemandangan bernuansa khas Jepang.
Saat berwisata ke Akita, jangan lewatkan destinasi yang memperkenalkan budaya dan adat tradisional Jepang, serta onsen—pemandian air panas alami—tersembunyi yang termasuk paling terkenal di negeri ini.
Artikel ini memperkenalkan destinasi wisata, tempat belanja, acara, dan berbagai cara untuk menikmati pesona Akita sepenuhnya.
Seperti Apa Akita Itu?
Prefektur Akita berada di kawasan pegunungan di bagian utara Pulau Honshu dan menghadap Laut Jepang.
Wilayah yang penuh pesona ini memiliki alam yang kaya, banyak destinasi wisata, serta beragam seni pertunjukan daerah, festival, dan acara lainnya.
Akita memiliki jumlah Warisan Budaya Rakyat Takbenda Penting yang ditetapkan pemerintah Jepang terbanyak di negara ini. Kunjungan ke destinasi terkait tradisi atau keikutsertaan dalam festival, seperti Namahage, Hanawa Bayashi, dan prosesi kereta hias pada Festival Kuil Tsuchizaki Shinmeisha, akan membawa Anda lebih dekat dengan tradisi Jepang.
Akita juga memiliki banyak onsen, termasuk Nyuto Onsen yang menawarkan pemandangan bernuansa khas Jepang dan beragam karakteristik air panas. Banyak wisatawan datang khusus untuk menikmati onsen tersebut.

Kapan Musim Terbaik untuk Berwisata ke Akita?
Keindahan alam Akita dapat dinikmati sepanjang tahun, tetapi musim dingin paling direkomendasikan bagi Anda yang ingin menikmati onsen.
Berendam di air panas sambil memandang lanskap bersalju yang kental dengan nuansa Jepang terasa begitu menenteramkan.
Bagaimana jika Anda mengunjungi Akita pada puncak musim dingin untuk bersantai di tengah alam dan menikmati onsen?
Pilihan Pakaian untuk Setiap Musim di Akita
- Musim semi (Maret–Mei): Jaket tebal atau mantel
- Musim panas (Juni–Agustus): Kaus dan kemeja lengan panjang
- Musim gugur (September–November): Sweter atau kardigan
- Musim dingin (Desember–Februari): Mantel, sweter tebal, atau jaket tebal
Bagaimana Cara Menuju Akita?
Akita memiliki dua bandara, yaitu Bandara Akita dan Bandara Odate-Noshiro. Karena itu, akses dari kota besar yang juga memiliki bandara, seperti Tokyo, Osaka, dan Nagoya, cukup mudah, dengan penerbangan sekitar 1 jam.
Akita juga dilalui shinkansen, kereta cepat Jepang. Perjalanan dari Tokyo dengan shinkansen memakan waktu sekitar 3,5–4 jam.
Transportasi Utama untuk Berwisata di Akita
Transportasi utama di Prefektur Akita adalah bus dan kereta.
Gunakan kereta dan bus untuk berkeliling ke berbagai destinasi wisata, lalu manfaatkan taksi untuk tempat-tempat yang tidak dilalui keduanya.
Tersedianya beragam layanan taksi bagi wisatawan, termasuk taksi wisata dan taksi bersama, juga memudahkan perjalanan.
Menikmati Budaya Tradisional dan Bersantai di Onsen: 21 Destinasi Wisata Pilihan di Akita
Akita merupakan wilayah yang masih mempertahankan budaya tradisional Jepang dengan kuat.
Berikut pilihan destinasi wisata untuk menikmati budaya tersebut.
Akita juga memiliki sejumlah onsen tersembunyi yang termasuk paling terkenal di Jepang. Setelah lelah berwisata, berendamlah untuk melepas penat.
1. Kediaman Samurai Kakunodate
Di Kakunodate, Kota Semboku, Prefektur Akita, lanskap kota tua yang dibangun oleh klan Ashina pada awal zaman Edo, sekitar tahun 1620, masih terjaga hingga kini. Kawasan ini kemudian berkembang sebagai kota di sekitar kastel milik keluarga Satake cabang utara dan telah ditetapkan sebagai Kawasan Pelestarian Kelompok Bangunan Tradisional Penting oleh pemerintah Jepang.
Di dalam kawasan tersebut terdapat Bukeyashiki-dori, jalan yang dipenuhi bekas kediaman keluarga samurai.

2. Museum Seni Prefektur Akita
Museum ini dibuka pada tahun 2013, tahun ke-25 era Heisei, di Area Nakaichi, kawasan dekat Stasiun Akita yang dikembangkan kembali sebagai pusat seni dan pertukaran budaya. Bangunan modernnya dirancang oleh arsitek Tadao Ando. Motif segitiga yang berulang dan interior beton yang lugas menciptakan ruang seni dengan suasana yang berbeda dari keseharian.

3. Akuarium Oga GAO
Akuarium di pesisir barat Semenanjung Oga ini menyambut pengunjung dengan ikan-ikan yang hidup di perairan Oga dan berbagai satwa laut favorit.
Tepat setelah pintu masuk, terdapat Akuarium Besar Laut Oga yang mereproduksi perairan setempat, dengan sekitar 2.000 ekor ikan dari 40 spesies. Terowongannya memungkinkan Anda melihat ikan dari bawah, seolah-olah sedang berjalan di dasar laut.

4. Dek Observasi Berputar Gunung Kanpu
Gunung Kanpu berada di pangkal Semenanjung Oga dengan ketinggian 355 m. Di puncaknya terdapat Dek Observasi Berputar Gunung Kanpu. Meski gunung ini tidak terlalu tinggi, tidak ada apa pun yang menghalangi pandangan, sehingga Anda dapat menikmati panorama yang benar-benar indah.

5. Taman Senshu
Taman luas seluas 16,29 hektare ini dibangun di bekas lokasi Kastel Kubota, milik klan Satake yang memerintah wilayah feodal Akita. Taman bergaya Jepang ini memanfaatkan ciri kastel yang dikelilingi tanggul tanah dan parit. Bangunan pos jaga Omonogashira Gobansho yang telah dipugar, serta menara sudut Osumiyagura dan gerbang utama Omotemon yang dibangun kembali, menghadirkan suasana masa pemerintahan feodal hingga kini.

6. Kawasan Nyuto Onsen
Nyuto Onsen merupakan sebutan untuk kumpulan onsen di kaki Gunung Nyuto, dalam kawasan Taman Nasional Towada-Hachimantai. Kawasan ini terdiri atas tujuh penginapan onsen yang berdiri terpisah, yaitu Tsurunoyu, Taenoyu, Kuroyu, Ganiba, Magoroku, Ogama, dan Kyukamura Nyuto Onsenkyo.

7. Tamagawa Onsen
Tamagawa Onsen memiliki air panas dengan tingkat keasaman tertinggi di Jepang, yaitu pH 1,2, dan dikenal sebagai tempat berendam untuk pemulihan dan relaksasi. Dari sumber yang disebut Obuki, air bersuhu 98°C mengalir sebanyak 9.000 liter per menit. Besarnya semburan ini pun jauh melampaui onsen lainnya.

8. Museum Sejarah Lokal Bata Merah Kota Akita
Museum ini menempati bekas kantor pusat Bank Akita yang selesai dibangun pada tahun 1912. Eksteriornya terutama menggunakan bata merah, dipadukan dengan ubin putih dan batu Oga. Desain yang berlandaskan gaya Renaisans ini memadukan kesan kokoh dengan keindahan. Eksterior bangunan dirancang oleh insinyur Naoaki Yamaguchi, dan bangunannya ditetapkan sebagai Properti Budaya Penting Jepang.

9. Akita Inu no Sato
Pusat wisata dan interaksi ini dibuka pada tahun 2019 di dekat Stasiun JR Odate. Sebagai penghormatan kepada Hachiko, anjing Akita paling terkenal di Jepang yang dikenal karena kesetiaannya, bangunan ini meniru bentuk Stasiun Shibuya pada era Taisho. Di dalamnya terdapat Museum Akita Inu untuk mempelajari karakteristik dan sejarah anjing Akita dengan cara yang menyenangkan, ruang pamer tempat Anda dapat melihat anjing Akita, serta toko dengan beragam barang bertema anjing Akita.

10. Goshogake Onsen
Onsen dengan satu penginapan ini berada di tengah pegunungan Taman Nasional Towada-Hachimantai. Uap air panas menyelimuti kawasan sekitarnya, sementara lubang semburan mata air panas dan gunung lumpur menghadirkan pemandangan seperti lembah vulkanik.
Airnya merupakan air panas belerang sederhana yang keruh berwarna abu-abu. Onsen ini berkhasiat untuk berbagai gangguan, seperti dermatitis atopik, nyeri saraf, dan penyakit saluran pencernaan. Sejak dahulu, ada ungkapan tentang Goshogake: “Datang menunggang kuda, pulang berjalan dengan bakiak kayu,” yang menggambarkan pemulihan para pengunjung setelah berendam.

11. Museum Tradisi Oga Shinzan dan Museum Namahage
Namahage dari Oga merupakan tradisi Semenanjung Oga yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Rakyat Takbenda Penting Jepang dan terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Pada malam pergantian tahun, para Namahage mendatangi rumah-rumah sambil berseru, “Ada yang malas di sini? Ada anak yang menangis?” untuk menegur perilaku buruk. Tingkah laku dan penampilan mereka yang menakutkan memang menyerupai sosok iblis, tetapi sebenarnya mereka adalah dewa yang datang berkunjung untuk mengusir malapetaka serta membawa hasil panen melimpah, tangkapan ikan berlimpah, dan keberuntungan.
Di Museum Tradisi Oga Shinzan, yang menempati rumah tradisional berbentuk L khas Semenanjung Oga, Anda dapat menyaksikan langsung pertunjukan Namahage yang mengesankan sesuai tata cara lama.

12. Danau Tazawa
Dengan kedalaman 423,4 m, Danau Tazawa merupakan danau terdalam di Jepang. Permukaan air berwarna biru kobaltnya begitu indah, menjadikannya salah satu tempat berpemandangan menawan di Prefektur Akita yang terpilih dalam daftar 100 Pemandangan Jepang. Pada tahun 2022, pemandangan bulan yang terbit di atas Danau Tazawa diakui sebagai salah satu dari 100 Pemandangan Bulan Terbaik Jepang, menambah daya tarik danau ini. Permukaan danau yang memantulkan perubahan warna langit, dari merah senja hingga ungu menjelang malam, patut disaksikan.

13. Pegunungan Shirakami
Pegunungan Shirakami merupakan sebutan untuk kawasan pegunungan luas sekitar 13 hektare yang membentang dari barat laut Prefektur Akita hingga barat daya Prefektur Aomori. Di kawasan ini tersebar hutan beech alami yang termasuk terbesar di dunia dan hampir tidak tersentuh aktivitas manusia sejak zaman purba. Beragam satwa dan tumbuhan hidup di sini, membentuk ekosistem berharga yang tetap terjaga. Karena itu, kawasan ini terdaftar sebagai Situs Warisan Alam Dunia pada tahun 1993.
Terdapat pula banyak tempat menarik yang mudah dikunjungi tanpa perlu mengurus izin masuk gunung atau prosedur serupa, seperti Air Terjun Anmon, Juniko, dan Jalur Takakuramori.

14. Tanjung Nyudozaki
Tanjung ini berada di titik paling utara Semenanjung Oga yang menjorok dari barat laut Prefektur Akita, tepat pada garis lintang 40 derajat utara. Di ujung hamparan rumput yang landai, terbentang tebing curam setinggi 30 m dan pemandangan Laut Jepang yang luas. Kontras antara daratan hijau, langit biru, dan laut menjadikannya tempat dengan panorama yang indah. Ada pula beragam daya tarik, seperti mercusuar yang dapat dinaiki dan kapal untuk mengamati pemandangan bawah laut.

15. Semburan Air Panas Oyasukyo Daifunto
Oyasukyo, yang terletak di hulu Sungai Minase di Prefektur Akita, merupakan ngarai berbentuk V yang terbentuk ketika arus deras sungai mengikis kedua sisinya selama bertahun-tahun. Daya tarik utamanya adalah Oyasukyo Daifunto. Setelah menuruni tangga di sepanjang bebatuan dengan selisih ketinggian sekitar 60 m, Anda akan tiba di jalur pejalan kaki, tempat air panas dan uap menyembur kuat di berbagai titik. Fenomena mengesankan yang seolah memperlihatkan napas bumi ini terbentuk karena kondisi geologi khas Oyasukyo yang langka di dunia: retakan pada reservoir panas bumi, tempat uap dan air panas terkumpul, tersingkap ke permukaan.

16. Lingkaran Batu Oyu
Situs zaman Jomon berusia sekitar 4.000 tahun ini berada di dataran tinggi sekitar 180 meter di atas permukaan laut, di timur laut Prefektur Akita. Pada Juli 2021, situs ini terdaftar sebagai Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO sebagai bagian dari Situs Prasejarah Jomon di Jepang Utara, yang terdiri atas 17 situs di Hokkaido serta Prefektur Aomori, Akita, dan Iwate.
Situs ini terdiri atas dua lingkaran batu: Lingkaran Batu Manza, yang tersusun dari sekitar 6.500 batu dengan diameter maksimum 52 meter, serta Lingkaran Batu Nonakado, yang tersusun dari sekitar 2.000 batu dengan diameter maksimum 42 meter. Di sebelah barat laut dari pusat masing-masing lingkaran terdapat susunan batu menyerupai jam matahari. Perhatikan hubungan posisi susunan batu tersebut dengan pusat lingkarannya.

17. Museum Mainan Kayu Chokaisan
Fasilitas interaksi lintas generasi ini memanfaatkan bangunan sekolah kayu berusia lebih dari 60 tahun tanpa mengubah bentuk aslinya. Selain menyediakan mainan kayu dan wahana permainan besar, tempat ini juga memamerkan koleksi museum sejarah lokal, sehingga berperan dalam mewariskan dan memperkenalkan budaya tradisional.
Bagian dalamnya terbagi menjadi tujuh zona dengan beragam kegiatan. Misalnya, Mori no Asobiba, area bermain yang sebelumnya merupakan gedung olahraga, memiliki kolam berisi 5.000 biji ek kayu dan 26 bilik bermain. Di Asobi no Heya 1, pengunjung dapat mencoba lebih dari 100 jenis mainan kayu, sedangkan di Tezukuri Kobo, pengunjung dapat membuat mainan sendiri dari kayu dan bambu.

18. Kebun Binatang Omoriyama Kota Akita — Akigin Omorin no Mori
Mengusung tema “Hutan untuk Berkomunikasi dengan Satwa”, kebun binatang ini memelihara dan memamerkan 541 satwa dari 92 spesies, termasuk panda merah, macan tutul salju, serigala Arktik, unta Baktria, dan rusa kutub.
Berbagai konsep penataan diterapkan agar pengunjung dapat melihat kehidupan satwa dari dekat dan semakin mengenal daya tarik mereka.

19. Semenanjung Oga
Semenanjung yang kaya akan alam ini berada di barat laut Prefektur Akita dan menjorok ke Laut Jepang. Wilayah ini terkenal di seluruh Jepang berkat Namahage dari Oga, yang terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada tahun 2018. Namahage dari Oga merupakan tradisi yang dilaksanakan pada malam pergantian tahun di lebih dari 80 komunitas di Semenanjung Oga. Ada banyak acara dan fasilitas terkait Namahage, seperti Festival Namahage Sedo yang diselenggarakan pada pertengahan Februari, Museum Tradisi Oga Shinzan yang memungkinkan pengunjung menyaksikan tradisi Namahage sepanjang tahun, serta Museum Namahage yang memamerkan lebih dari 150 topeng Namahage.

20. Akita Inu Kaikan
Anjing Akita merupakan ras anjing besar Jepang yang telah ditetapkan sebagai Monumen Alam. Meski bertubuh besar dan merupakan anjing pemburu, ras ini populer karena penampilannya yang menggemaskan dengan bulu lebat. Anjing Akita, yang juga dikenal melalui kisah Hachiko si anjing setia, disebut memiliki sifat cerdas dan setia.
Kantor pusat Akita Inu Hozonkai, asosiasi berbadan hukum untuk kepentingan publik yang bertujuan melindungi dan mengembangbiakkan anjing Akita, berada di lantai 1 Akita Inu Kaikan. Di lantai 3 terdapat ruang museum anjing Akita yang menyimpan dan memamerkan informasi tentang kehidupan, sejarah, kisah individu anjing Akita, serta berbagai materi lainnya.

21. Akita-Komagatake
Gugusan gunung ini merupakan yang tertinggi di Prefektur Akita, dengan ketinggian 1.637 m, dan terdiri atas sejumlah puncak, termasuk Onamedake dan Odake.
Dikenal pula sebagai “Gunung Bunga”, kawasan ini memanjakan mata para pendaki dengan tumbuhan alpin yang berbunga setiap Juni–Agustus.
Berkat letak lintang dan kondisi iklimnya, di sini juga tumbuh varietas yang konon umumnya hanya dapat hidup di pegunungan setinggi 3.000 m. Bunga-bunga mungil beraneka warna pun menyambut para pengunjung.

3 Tempat Makan Populer di Akita
Akita dikenal sebagai daerah dengan beragam kuliner lezat, seperti udon Inaniwa dan kiritanpo nabe, hidangan berkuah dengan nasi panggang berbentuk silinder.
Selain berwisata, pastikan Anda juga mencicipi kuliner Akita. Berikut beberapa tempat makan populer di Akita yang menyajikan hidangan khas daerah.
1. Sato Yosuke Sohonten
Usaha legendaris ini mewarisi metode pembuatan udon Inaniwa yang dirumuskan oleh Inaniwa (Sato) Kichizaemon generasi pertama pada tahun 1665, tahun ke-5 era Kanbun.
Dari pemilihan bahan hingga pemeriksaan sebelum pengiriman, setiap tahap dilakukan dengan teliti. Hingga kini, mereka tetap mempertahankan metode tradisional yang seluruhnya dikerjakan dengan tangan.
Udon Inaniwa ini dibuat dengan cermat dari bahan sederhana, seperti air garam yang diolah dari air jernih dan garam pilihan, serta tepung khusus. Pembuatannya memerlukan waktu tiga hari, termasuk proses pematangan adonan.
Para perajin berpengalaman menyesuaikan prosesnya secara saksama dengan suhu dan kelembapan hari itu, sehingga menghasilkan tekstur yang pas saat digigit dan sangat licin saat disantap.

2. Akita Kiritanpoya Akita Ekimae Honten
Restoran di depan Stasiun JR Akita ini menyajikan beragam hidangan lezat Akita, termasuk kiritanpo nabe, salah satu kuliner daerah yang paling mewakili Akita.
Tanpo merupakan makanan khas Akita yang berasal dari zaman Edo, dibuat dengan melilitkan nasi yang ditumbuk pada batang kayu aras Akita, lalu memanggangnya.
Menu andalan restoran ini adalah kiritanpo nabe, yang dimasak bersama sayuran, jamur, daging ayam, dan bahan lainnya. Konon, sejak dahulu hidangan ini selalu disajikan pada berbagai upacara adat, pernikahan, dan pemakaman di pedesaan.

3. Kuidouraku Honten
Kuidouraku Honten merupakan izakaya, kedai makan dan minum bergaya Jepang, di Kota Yokote, Prefektur Akita.
Tempat ini memiliki sejarah lebih dari 45 tahun sejak didirikan.
Restoran ini dikenal dengan hidangan yang memanfaatkan bahan pangan setempat serta pilihan sake lokal Akita yang beragam.
Secara khusus, restoran ini menjadi favorit masyarakat setempat sebagai salah satu tempat ternama untuk menikmati Yokote yakisoba, mi goreng khas Yokote.

Temukan Bahan Pangan dari Alam yang Kaya dan Sake Lokal! 3 Tempat Belanja Populer di Akita
Akita memiliki budaya kuliner yang unik dan banyak hidangan khas daerah. Sake lokal Akita juga terkenal di seluruh Jepang.
Dari sekian banyak tempat belanja di Akita, berikut pilihan tempat untuk membeli bahan pangan yang dihasilkan oleh alamnya yang kaya serta sake lokal.
1. Menara Pelabuhan Selion di Michi no Eki Akita-ko
Menara berlapis kaca yang menjadi simbol Pelabuhan Akita ini merupakan salah satu fasilitas di Michi no Eki Akita-ko, kompleks persinggahan dan penjualan produk lokal.
Tinggi keseluruhannya mencapai 143 m. Dari dek observasi gratis pada ketinggian 100 m di atas tanah, Anda dapat menikmati panorama 360 derajat.
Pemandangan luas Laut Jepang, Kota Akita, dan Semenanjung Oga sungguh mengesankan.
Di lantai 1, toko produk lokal Selion Garden menjual sayuran dan buah-buahan segar hasil daerah setempat.
Tersedia pula aneka makanan khas Akita, seperti kiritanpo, ikan hatahata, dan iburigakko atau acar lobak asap, serta sake lokal kebanggaan Akita yang dikenal sebagai daerah penghasil beras.
Barang-barang bertema Selion Boya, maskot khas tempat ini, juga bisa menjadi pilihan oleh-oleh.

2. Yama no Hachimitsuya
Toko khusus madu ini berada di Prefektur Akita, salah satu daerah penghasil madu utama di Jepang.
Bangunan kayunya berbentuk kubah yang terinspirasi dari keranjang lebah. Di dalamnya tersedia berbagai madu dari Jepang dan luar negeri, mulai dari madu bunga kastanye kuda Jepang dan akasia yang dipanen di sekitar Danau Tazawa hingga madu bunga lemon, kopi, dan bunga matahari.
Semua produk dapat dicicipi, jadi temukan rasa yang paling Anda sukai.

3. Topico dan ALS di Gedung Stasiun Akita
Stasiun Akita digunakan oleh banyak orang sebagai pintu gerbang menuju Akita.
Topico dan ALS, pusat perbelanjaan yang terhubung langsung dengan stasiun, populer di kalangan warga setempat maupun wisatawan.
Topico menawarkan beragam pilihan kuliner dan mudah diakses dari gerbang tiket pusat Stasiun Akita maupun Poporoad, jalur penghubung sisi timur dan barat stasiun.
Di lantai 1 dan 3 terdapat berbagai tempat makan, mulai dari restoran yang menyajikan bahan pangan lokal, restoran terkenal dengan kuliner khas daerah, hingga jaringan restoran populer. Lantai 2 dipenuhi toko yang menjual produk khas setempat untuk oleh-oleh Akita, seperti kue terkenal, sake lokal, dan kerajinan tradisional.

3 Rekomendasi Penginapan di Akita
Akita memiliki banyak pilihan akomodasi, mulai dari ryokan atau penginapan tradisional Jepang tempat Anda dapat berendam santai sambil dikelilingi pegunungan, hingga hotel dengan suasana elegan.
Berikut pilihan penginapan yang paling direkomendasikan di antara berbagai pilihan tersebut.
1. Tsurunoyu Onsen
Penginapan onsen ini termasuk yang paling populer di kawasan Nyuto Onsen, salah satu kawasan onsen tersembunyi yang paling mewakili Akita.
Terletak jauh di dalam pegunungan dan terpisah dari permukiman, suasananya seolah menyerupai tempat persembunyian samurai.
Hal itu tidak mengherankan, karena tempat ini dahulu digunakan oleh penguasa wilayah feodal Akita untuk menjalani terapi berendam. Bangunan panjang beratap jerami yang kini menjadi kamar tamu pernah digunakan sebagai pos para pengawal ketika Satake Yoshitaka, penguasa generasi kedua, datang untuk menjalani terapi tersebut.

2. Shiki Irodori Akita Zukushi Yuze Hotel
Kawasan Yuze Onsen membentang di sepanjang Ngarai Yuze, di kaki Pegunungan Ou.
Konon, namanya berasal dari air panas yang begitu melimpah hingga muncul pula dari bagian dangkal sungai. Onsen ini dikenal sebagai salah satu dari tiga onsen kecantikan utama Jepang, dengan ungkapan, “Sekali berendam, menjadi dua tahun lebih muda.”
Yuze Hotel membanggakan pemandian umum luas yang memungkinkan Anda menikmati air onsen kecantikan terkenal ini, dialirkan langsung dari sumbernya tanpa disirkulasikan kembali.

3. Hotel Metropolitan Akita
Terletak tepat di depan Stasiun Akita, hotel ini ideal sebagai tempat menginap untuk berwisata maupun perjalanan bisnis.
Hotel terhubung langsung melalui Topico di gedung stasiun dan dapat dicapai dengan mudah dalam waktu 1 menit berjalan kaki.
Hotel ini terdiri atas dua bangunan, yaitu bangunan utama dengan suasana modern dan tenang, serta bangunan tambahan North Wing yang desainnya terinspirasi oleh pemandangan empat musim Akita. Seluruhnya memiliki 247 kamar yang mengusung ciri khas daerah Akita. Kamar-kamar di lantai atas North Wing juga menawarkan pemandangan luas melalui jendela panorama berukuran besar.

3 Oleh-Oleh Khas Akita yang Populer
Setelah puas berwisata di Akita, bawalah pulang makanan khasnya sebagai oleh-oleh untuk teman, kenalan, atau diri sendiri.
Jika ingin memilih oleh-oleh yang sudah dikenal dan disukai banyak orang, pertimbangkan pilihan khas berikut ini.
1. “Inaniwa Hoshi Udon” dari Sato Yosuke Shoten
Udon Inaniwa, kuliner khas Akita, dikenal sebagai salah satu dari tiga udon utama atau tiga udon ternama Jepang.
Udon ini bermula ketika Inaniwa (Sato) Kichizaemon membuat udon kering pada tahun 1665, tahun ke-5 era Kanbun.
Metode pembuatannya dahulu diwariskan hanya kepada satu anak setiap generasi. Namun, agar keterampilan tersebut tidak punah, metode ini secara khusus diajarkan kepada Sato Yosuke generasi kedua, putra keempat Kichizaemon generasi ketujuh. Ia kemudian mendirikan Sato Yosuke Shoten pada tahun 1860, tahun pertama era Man'en.

2. “Mofudora” dari Fugetsudo
Fugetsudo merupakan toko kue tradisional Jepang di Jumonji, Kota Yokote, Prefektur Akita, yang didirikan pada tahun 1926, tahun pertama era Showa.
Selain produk klasik seperti manju, kue berisi pasta kacang, dan dorayaki, Mofudora juga semakin populer dalam beberapa tahun terakhir.
Dorayaki kukus bertema anjing Akita ini memiliki kulit kue lembut dan mengembang yang mengingatkan pada bulu lebat anjing Akita.

3. “Kinman, Kue Khas Akita” dari Kinman Co., Ltd.
Manju berkulit kue castella ini telah dicintai selama lebih dari 60 tahun sebagai salah satu kue khas Akita.
Toko pembuatnya dahulu berada di kawasan pertokoan Kinzagai di depan Stasiun Akita. Karena itu, nama Kinman diambil dari singkatan ungkapan yang berarti “manju dari Kinzagai”.
Kinman dibuat dengan membungkus pasta kacang putih bercampur telur menggunakan kulit menyerupai kue castella yang kaya madu dan telur, lalu memanggangnya hingga mengembang dengan mesin pembuat kue tradisional. Rasanya manis lembut dan menenangkan.

Seru pada Musim Panas maupun Musim Dingin! 3 Acara Pilihan di Akita
Akita memiliki berbagai tradisi dan acara berusia lebih dari 100 tahun yang diselenggarakan pada musim panas maupun musim dingin.
Selain Yokote Kamakura yang menawarkan pengalaman khas daerah bersalju, jangan lewatkan Omagari no Hanabi, pertunjukan kembang api berskala besar yang menarik hingga 700.000 penonton dari Jepang dan luar negeri.
Jika berwisata ke Akita pada musim dingin atau musim panas, pastikan Anda juga menyaksikan acara-acara berikut.
1. Yokote Kamakura
Kamakura merupakan tradisi Koshogatsu, perayaan pertengahan Januari dalam tradisi Tahun Baru Jepang, yang diwariskan di daerah seperti Akita dan Niigata. Dalam tradisi ini, altar dibuat di dalam rumah salju untuk memuja dewa air. Festival Kamakura di Yokote, kota yang terkenal sebagai salah satu daerah dengan salju terlebat di Jepang, diselenggarakan setiap tanggal 15 dan 16 Februari. Festival tradisional dengan sejarah sekitar 450 tahun ini termasuk salah satu dari Lima Festival Salju Utama Michinoku, sebutan untuk kawasan Tohoku.

2. Omagari no Hanabi
Omagari no Hanabi memiliki sejarah lebih dari 100 tahun dan dikenal sebagai salah satu dari Tiga Festival Kembang Api Utama Jepang. Acara yang menjadi ciri khas musim panas Akita ini berawal dari pertunjukan kembang api pada tahun 1910, tahun ke-43 era Meiji, yang diselenggarakan sebagai hiburan tambahan dalam perayaan Kuil Suwa di Omagari.
Nama resminya adalah Kompetisi Kembang Api Nasional “Omagari no Hanabi”. Para perajin kembang api pilihan dari seluruh Jepang berkumpul dan menampilkan karya terbaik mereka untuk memperebutkan gelar terbaik di Jepang. Di sela-sela kompetisi, panitia menampilkan rangkaian kembang api berskala lebar yang dipersiapkan selama satu tahun. Rangkaian ini diluncurkan serentak dari sejumlah titik yang berjajar, mengikuti alunan musik, sehingga menghasilkan pertunjukan berskala megah. Pertunjukan khusus dari panitia ini sangat mengesankan, dan banyak penonton datang terutama untuk menyaksikannya.

3. Festival Akita Kanto
Festival Akita Kanto merupakan festival tradisional Akita dengan sejarah sepanjang 270 tahun. Festival ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Rakyat Takbenda Penting Jepang dan termasuk salah satu dari Tiga Festival Utama Tohoku.
Acara berlangsung selama empat hari, setiap tanggal 3–6 Agustus, terutama di Kanto Odori, Kota Akita. Kegiatannya terbagi menjadi pertunjukan Kanto siang hari dan pertunjukan utama malam hari. Pertunjukan siang berlangsung pada tanggal 4–6 Agustus.

Penutup
Akita menawarkan banyak cara untuk menikmati perjalanan, mulai dari pemandangan alam yang luas, onsen tersembunyi yang termasuk paling terkenal di Jepang, hingga budaya tradisional dan kulinernya.
Anda mungkin bingung harus mulai dari mana. Sebagai langkah awal, cobalah menyusun rencana perjalanan dengan destinasi yang diperkenalkan dalam artikel ini sebagai tujuan utama.
Dengan begitu, Anda dapat menikmati onsen tersembunyi dan budaya tradisional Jepang yang menjadi daya tarik Akita.
Setelah puas menjelajahi Akita, bagaimana jika melanjutkan perjalanan sedikit lebih jauh ke Prefektur Aomori di ujung paling utara Pulau Honshu?
Seperti Akita, Prefektur Aomori juga memiliki banyak destinasi wisata dan festival yang memperkenalkan budaya tradisional Jepang.
Perjalanan ini akan menjadi kesempatan istimewa untuk mengenal beragam tradisi dan budaya dari wilayah yang berbeda dalam satu negara.
Penulis